Cerita Lelaki dalam Pigura

Senin, April 11, 2011 Alexander GB 0 Comments

Cerita Lelaki dalam Pigura

1.
Ada sebuah jendela di tubuhku. Jendela yang menutup dirinya sendiri. Dulu, seorang wanita bertanya mengapa aku tak pernah membukanya. Aku menggelengkan kepala. Suara seruling dan gendang kuda lumping terdengar lamat.

10 tahun berlalu. Selepas jam makan malam ricik air keran terdengar samar dari dapur, suara piring dan gelas bersentuhan, juga seorang wanita bersenandung, ratap kerinduan. Ia melangkah ke ruang tamu sembari menghempaskan tubuh rentanya. Kisah-kisah yang ia simpan berjatuhan. Televisi menyala. Sesaat matanya tertambat pada sebuah pigura.

“Andai jendela itu terbuka mungkin kamu tak perlu risau asal usul ayah dan ibumu.” ujarnya.
“Lihatlah orang-orang datang, sebagian enggan membaca kembali notasi-notasi yang disembunyikan kampung halaman, sebagian dengan langkah malu-malu membersihkan debu yang melekat di logam-logam tembaga mirip tempurung yang diwariskan leluhurmu. Lihatlah angka-angka itu menyusun kisah yang lama kau abaikan, kisah-kisah yang belum sempat kau kenali. Mungkin, itulah jejak samar dalam ingatan yang membuatmu memutuskan meninggalkan rumah.”
Sesaat.
“Tunggu. Jangan tergesa-gesa. Jendela itu menyimpan kepedihan. Aku takut kamu tak kuasa menerimanya. Tetapi di sanalah awal kehidupan dan kematianmu, kebahagiaan dan kesedihanmu. Kau hidup karenanya. Dan kelak mati karenanya.”
Aku diam. Merasakan sesuatu yang mendesak rongga dada.
“Apa kau juga pernah mendengar nyanyian wanita diiringi suara cetik atau kulintang?”
Aku diam. Ingatanku seperti warna sepatu hitam yang pudar dihasut waktu. Kucium udara malam yang lembab, merasakan bayang-bayang hitam merambat, menyayat. Bayang-bayang hitam itu kupikir ayah.

Malam mengalunkan kidung-kidung purba, aroma kemenyan juga getah damar memenuhi ingatan. Samar terdengar dawai gitar klasik ditingkah lantunan hahiwang atau sagata. Dan jendela di tubuhku berderit. Deritnya amat menyakitkan. Aku merasa semakin sendiri. Tubuhku tertahan pigura. Sementara ada yang pelan-pelan menghujam setiap tangan keriput itu menyentuhku. Ada suara lirih memanggil, kupikir itu ibu.

2.

Mataku terpaku pada jendela sebuah rumah panggung bermotif perahu. Jendela yang membawa ingatanku kembali pada Oktober yang basah, dan kau tak ada. Kudengar kamu mencariku.

Lantas ingatanku kembali pada cerita ayah, saat ia mendirikan tenda darurat di sebuah tempat di ujung Sumatera. Menyeberangi lautan, melintasi sungai, padang ilalang, lembah, gunung, hutan perawan dan sampailah di sebuah dataran rendah yang masih mendengkur. Ia lupakan jalan ke Bakauheni, tetapi ia terus mendongeng tentang kuda lumping, wayang kulit dan campur sari kepada kami. Belum selesai ia bercerita, aku sudah terbuai oleh mimpi-mimpiku sendiri. Lalu ayah pergi dan tak pernah kembali.

3.

Malam itu, tangan wanita yang kian keriput itu kembali menyentuhku.

Ibu, dimana rumahmu? Tak kutemukan peta menuju makam leluhur di lemarimu. Kudengar suara batuk-batuk dan tatapan murammu. Mengapa kamu larang aku menabuh gendang peninggalan ayah? Mengapa tak kau bawa payung saat musim hujan? mengapa tak simpan kipas angin buat musim kemarau. Sungguh, suara batuk-batukmu semakin menggangguku.

Jejak-jejak lembut kembali menyentuh hatiku. Adakah jembatan yang menghubungkan diriku dengan leluhurm? Terlintas harap, ada sesuatu yang bisa membawaku terbang ke dunia antah berantah, segera membebaskan dari semua tanya, juga derit jendela. tapi tak bisa, aku terus membawa semua ingatan dan harapan yang pernah kau tanam. Setelah sekian lama berjalan aku tahu ada yang tak mungkin dan tak perlu digapai.

4.

Dari jendela itu ada suara tubuh yang pecah. Tubuh yang ingin segera diberi nama. Kamu masih ingat Sri yang amat kau manja. Ia sesenggukan karena teman-teman sanggarnya menanyakan kampung halaman. Sementara aku gagal membuat senyumnya merekah, sebab mulutku terlajur penuh ketakjelasan warna langit dan cuaca.

“Sri, kemarilah. Mungkin kamu bisa belajar sagata dari seorang wanita yang kita jumpai di dekat perbatasan. Nanti kukenalkan dengan seorang penari yang bisa mengajarimu. Nanti kujelaskan pada ayah dan ibu, semoga mereka bisa memaklumi.”

Ia belajar tari melinting, tari sembah, bedana dan lain-lain di sebuah sanggar. Meski tetap tampak sedikit kaku dan canggung bagiku. Apalagi kalau ia berbahasa sebagaimana teman-temannya, perutku sampai sakit menahan tawa. “Sudah, pakai bahasa seperti biasanya.” Ujarku. Ia mendekat jendela, pipinya merona merah. Di depan cermin ia mencoba-coba baju baru yang bukan dibelikan Ibu. Dan memang tak cocok. Kulitnya yang sawo matang tampak janggal dengan pakaian yang ia kenakan.

Beberapa waktu lalu ketika pulang, ia diminta ibu berlatih tari di pendopo. Ibu kecewa, sebab Sri kini sudah lupa apa yang pernah diajarkan. Meski aku mencoba menjelaskan tetapi ibu tetap kecewa. Sri mengunci pintu kamar. Kudengar isaknya dari beranda.



5.

Televisi masih menyala. Tetapi wanita itu belum beranjak ke kamar seperti biasanya.

Maaf Ibu, meski telah kuselusuri Tanjungkarang hingga Tanjung Setia, menguarai syair-syair dari Kenali sambil sesekali menyaksikan Begawi di Bunga Mayang, ziarah ke Makam Gajah Mada, atau beberapa kali membaca kisah Radin Jambat atau Dayang Rindu, namun aku tetap gagal menyusun angka dan huruf-huruf yang tersebar di tubuhku. Lalu kisah-kisah yang didongengkan ayah kembali memenuhi langitku, seperti gumpalan hitam yang berbondong-bondong datang dari utara. Tubuhku berhamburan.

Ketika mencoba kusatukan serpihan-serpihan yang kelak menjadi penanda diriku, hujan deras datang menghapus semuanya.

Sore itu kulihat sebentuk bayang datang melambaikan tangan di Bakauheni. Ayah, ibu, atau Sri kah itu? Bayangan itu berlari tanpa alas kaki. Tiba-tiba aku cemas, sebab bingung apa yang harus kukatakan pada kalian? Aku merasa perjalanan belumlah selesai. Tetapi ketika nyaris bertatap muka aku bingung sebab kita seperti tak lagi saling mengenali. Lalu kamu pergi, aku meratapi kapal yang terlanjur terpisah dari dermaga.

Sesaat, ingatanku kembali ketika kita masih bersama, malam lamat diterangi lampu sentir, suara jangkrik dan belalang. Ayah bercerita tentang Bima, Arjuna, tentang Kurawa dan Pandawa, tentang Prambanan, Borobudur, Dieng, Lawang Sewu, atau tentang muasal Semarang, Solo, Yogyakarta, Boyolali dan kota-kota lain yang belum pernah aku atau Sri kunjungi. Setiap sore Ayah suka nembang asmaradana sembari menimang perkutut dan ayam jago kesayangannya. Aku terkesima. Sementara ibu sibuk memasak sambil bersenandung. Dulu Ayah pernah mengajakku nonton kuda lumping, campur sari, wayang kulit, dan reog Ponorogo pada acara bersih desa.

Lantas beberapa musim aku meninggalkan rumah. Mengunjungi tempat dan kisah-kisah lain yang tak ada dalam cerita ayah. Tentang upacara adat orang-orang pesisir, muli-mekhanai, pesta sakura, menyusuri sungai Tulang Bawang lantas singgah di sebuah kota yang dindingnya dipenuhi motif payung dan perahu. Aku terhenyak. Diam. Aku lahir di langit yang berbeda dengan ayah dan ibu rupanya. Mereka diam dan mengangguk.

Aku tak tahu mengapa kini tak ada lagi orang yang menabuh gamelan, sebagaimana cetik dan kulintang yang juga sudah jarang dimainkan. Tak ada anak-anak kecil yang belajar kuda lumping seperti dulu. Seperti makin langka pula orang-orang berbalas pantun, warahan. Tiang-tiang Sesat dan pendopo lapuk, sampah plastik dan rumput liar tumbuh dimana-mana hingga sampai jendela rumah kita. Aku meratapi malam yang tak membawakan bulan dan bintang-bintang seperti biasanya.

Kini semakin tak jelas lagi mana rumah yang hendak kutuju. Aku beringsut. Membiarkan kisah-kisah usang memenuhi mimpi-mimpi panjangku.



6.
Tengah malam. Wanita itu beranjak dari kursi. Mematikan televisi. Sepertinya ia hendak ke kamar melanjutkan mimpinya yang terganggu derit jendela. Tapi tiba-tiba ia berhenti. Seperti ada sebuah ketukan di pintu depan.

“Ibu aku ingin rebah setelah melewatkan beberapa musim berjalan tanpa tujuan, tanpa kehendak untuk pulang. Bolehkah aku minta segelas air putih sekadar melepas dahaga. Maaf, jika bajuku lusuh, sepatuku sobek, warnanya luntur serta penuh debu.”
Ia menatapku. Berdiri dengan tatapan tak percaya, membiarkan aku masuk dan duduk di sebuah kursi di ruang tamu.
“Mengapa masih kau tenteng tas dan kopermu. Letakkan saja di situ. Apakah kamu sudah menemukan rumah yang sekian lama kamu impikan.”
Aku menggelengkan kepala. Setelah beberapa saat diam ia beranjak ke kamar sebelum memeluk atau membelai rambutku. Langkahnya agak tergesa. Mungkin masih ingin lebih lama menatapku. Tak lama kemudian ia kembali membawa segelas air, handuk dan pakaian yang sudah diseterika. Tetapi aku sudah tak ada. Aku kembali terkurung dalam pigura yang menempel di dinding ruang tamu. Matanya menatap koper usang dan tas ransel biru yang tergeletak di dekat tangga. Wanita itu mematung. Butir-butir air bermekaran di pipinya.
“Andai saja aku tak bercerita tentang jendela. andai aku tak melarangmu menabuh gendang peninggalan ayahmu, mungkin sekarang aku tak akan kehilangan kamu.”

Ada suara gelas dan sebuah pigura yang tergelincir ke lantai. Beberapakali wanita itu terbatuk-batuk. Kemudian senyap.

***
sebagai peringkat 4 pada event Lomba Cipta Cerpen Nasional Krakatau Award pada tahun 2010 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung

0 comments: