Hal Ihwal Mikroteater

Jumat, April 08, 2011 Alexander GB 0 Comments

November 28, 2010

Hal Ihwal Mikroteater

Oleh Alexander G.B.

ZAMAN berjalan tergesa-gesa. Orang-orang semakin sibuk, jadwal hariannya semakin padat, semakin sedikit waktu luang untuk mempelajari dan menikmati pertunjukan teater. Di sisi lain regenerasi dan transformasi pengetahuan dalam diri teater belum berjalan dengan baik. Teater masih dianggap melulu ekspresi, sesuatu yang berat, rumit dan sulit dipelajari.

Di Lampung hanya sedikit kelompok teater yang mampu memproduksi pementasan secara reguler. Tidak semua sekolah dan perguruan tinggi memiliki kelompok teater yang terus-menerus berproses. Meski teater sudah merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Komunitas teater independen yang relatif rajin memproduksi pementasan di lampung tinggal Teater Satu dan Komunitas Berkat Yakin, yang lain timbul tenggelam.

Karena itu teater harus mencari strategi penciptaan dan penghadiran yang lebih sederhana, lebih mudah diterima pelaku dan publiknya. Sehingga teater semakin memasyarakat.

Salah satu jalan keluar yang ditawarkan Komunitas Berkat Yakin Lampung adalah mengembangkan pementasan-pementasan kecil yang durasinya antara 5–20 menit saja. Meskipun pendek, struktur pertunjukan tetap dipertahankan. Tetap ada eksposisi, ada komplikasi-konflik, perkembangan karakter, ada point off attack, ada klimaks, ada resolusi.

Selain mikroteater, dramatik reading bisa menjadi salah satu alternatif juga. Dramatik reading lazim kita temukan sebagai satu tahapan prapementasan. Akan tetapi jika tahap ini benar-benar dikemas dengan baik bukan tidak mungkin bisa menjadi salah satu bentuk penghadiran teater yang menarik. Lengkap dengan karakterisasi tokoh-tokoh yang ada dalam naskah. Hanya tidak diikuti dengan laku dramatik dan setting panggung sebagaimana yang dikehendaki naskah. Teater Garasi Yogyakarta contohnya bahkan telah menggelar Festival Dramatik Reading pada tahun ini.

Strategi penciptaan semacam ini mungkin mendekati sandiwara radio, mendongeng, atau sastra lisan lainnya. Dan saya rasa model ini lebih mudah berkembang karena Lampung punya akar yang kuat untuk konteks sastra lisan. Tetapi dalam konteks pemanggungan, risiko menarik dan tidaknya memang lebih berat dibanding teater maupun mikroteater karena hanya mengandalkan suara aktor-aktor yang membacakan teks tersebut.

***

Jika pada puisi ada hatiku, di prosa ada flash fiction (fiksi mikro), maka di jagat teater ada mikroteater (teater mini). Sebenarnya mikroteater bukan hal asing dalam perkembangan teater dunia. Di Amerika dan Eropa hal ini sudah lazim. Setiap tahun ada perhelatan yang bertajuk Festival Drama Pendek, baik monolog maupun ensemble. Tetapi untuk konteks Lampung, model ini belum berkembang.

Ari Pahala Hutabarat (Direktur Artistik) bersama beberapa aktor KoBER sejak Juni 2010 mencoba cara ini untuk mengatasi hambatan keterbatasan aktor dan metodel pembelajaran aktor-aktornya. Mikro teater adalah pertunjukan yang berdurasi 5 sampai 20 menit. Mikroteater KoBER telah di pentaskan di tiga tempat dan mendapat sambutan dari pelaku-pelaku teater kampus. Selain di Universitas Lampung pada akhir Juli dan Oktober 2010, pada 13 November yang lalu KoBER juga menggelar 2 pementasan mikroteater.

Pada November 2010 hingga Oktober 2011, Komunitas Berkat Yakin Lampung kembali akan menggelar beberapa nomor pertunjukan mikro teater di 10 kabupeten/kota se-Lampung. Pergelaran dengan bentuk teater mini ini merupakan presentasi dari proses keaktoran dan penciptaan teater yang mereka lakukan dan telah berlangsung sejak Juni 2010.

Masing-masing aktor menentukan naskah dan proses penciptaan yang mereka kelola sendiri; dari pemilihan naskah, pengembangan gagasan, struktur/notasi pertunjukan, perwujudan idiom-idiom kreatif sampai strategi dan bentuk presentasi karya di depan publik.

Mikroteater merupakan salah satu strategi penciptaan teater KoBER di masa mendatang dan bisa dikembangkan oleh komunitas lain. Pertunjukan yang pendek tetapi mantap, berkesan, dan dahsyat. Demikian landasan pemikiran mereka ketika menghadirkan wacana mikroteater.

Kerja teater juga makin sederhana tidak perlu dibayang-bayangi ketakutan dengan durasi panjang dan banyaknya pemain. Aktor secara mandiri mengatur lalu lintas ide dan gagasan kreatifnya sendiri. Selain itu sumber teks juga lebih longgar, bisa mengadaptasi dari lakon monolog yang sudah ada, cerpen, atau bahkan puisi. Hal ini bisa menjadi jalan keluar terbatasnya naskah teater di Indonesia, khususnya di Lampung.

Mikroteater juga memberi peluang pelaku teater untuk lebih detail dalam proses penggarapan. Lebih cepat dalam proses pengulangan. Sehingga proses teater lebih disadari. Pertunjukan yang pendek menuntut aktor benar-benar menyadari dan menakar aktingnya. Tidak mengandalkan naluri atau serampangan. Setiap akting yang ada di panggung benar-benar merupakan ekstrasi dari hasil seleksi bentuk-bentuk ekspresi.

***

Dalam dunia pertunjukan, panjang dan pendek durasi pementasan tidak menjadi soal. Yang terpenting adalah apakah pementasan itu bisa dinikmati penonton dengan baik? Apakah pementasan itu bagus (berkualitas)? Bagus dalam artian struktur pementasan tergarap dengan baik, akting aktor-aktornya terukur, pesan teks dalam lakon sampai kepada penonton.

Selanjutnya, mikroteater yang bertumpu pada aktor—keaktoran memungkinkan pementasan dilakukan di mana saja. Di ruang yang kecil, yang tidak didukung fasilitas pertunjukan lengkap pun tetap bisa diberlangsungkan.

Mikroteater bisa menjadi strategi penciptaan teater Indonesia masa depan. Karena selain sederhana, murah, tetapi tidak murahan—tetap berwibawa. Mikroteater juga bisa menjadi solusi terbatasnya aktor, terbatasnya naskah lakon, terbatasnya gedung pertunjukan yang representatif, dan terbatasnya dana atau biaya produksi yang biasanya besar. Pendanaan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menghantui kelompok-kelompok teater amatir ketika hendak berproduksi.

Dari sisi pengetahuan, mikroteater karena berdurasi pendek memungkinkan mengulang-ulang adegannya sampai bagus, sampai aktingnya meyakinkan. Aktor memiliki ruang untuk merancang, melatih aktingnya lebih detail, lebih presisif, lebih terukur, dan lebih halus. Sehingga ketika dipentaskan penonton mendapat suguhan yang sudah terolah dengan baik.

Karena durasi yang pendek, mikroteater menjadi pilihan yang seksi bagi pelaku teater (aktor) untuk membuat pertunjukan yang lebih terencana, tertata, terolah, presisif, dan lebih keren. Isu yang dilontarkan Ari Pahala Hutabarat berangkat dari perlunya, di tengah kehidupan teater di Lampung yang fluktuatif. Seorang aktor membangun kemandiriannya, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya sistem pengetahuan dalam proses berteater. Seorang aktor mesti pintar, harus menyadari setiap akting yang dilakukan.

Mikroteater memberi tantangan bagi para aktor bagaimana dengan ruang yang terbatas (durasi 5—20 menit) tetap mampu menampilkan pertunjukan yang menawan. Pementasan yang pendek menuntut setiap pelaku menyusun sistem pengetahuan yang telah didapat dalam serangkaian proses dan peristiwa teater yang dilakoninya. Dengan kata lain mengambil pengetahuan dari pengalaman. Saat menguasai pengetahuan (keaktoran tertentu), seorang aktor telah membangun kemandiriannya.

Nah, dengan munculnya mikroteater, kelompok-kelompok teater tidak perlu kehabisan ide untuk membuat sebuah pementasan. Banyak persoalan yang bisa dituntaskan dengan mikroteater.

Alexander G.B., anggota Komunitas Berkat Yakin, Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 November 2010

0 comments: