Lintang

Sabtu, April 09, 2011 Alexander GB 0 Comments


Lintang lelaki sederhana. Ada banyak pertanyaan meluap-luap hingga tak tertampung kepala. Mungkin ia pejalan, seorang pendusta, atau murid Sang Naga. Lintang senantiasa tergoda mengurai makna setiap jalan, kota, dan persimpangan. Kisahnya rapi tersimpan dalam ransel warna biru yang selalu melekat di bahu. Ketika membaca kembali cerita yang ia tulis itu Lintang sering bingung, mesti menangis atau tertawa.
Kepingan pertama:
Di sebuah tempat singgah yang kutahu sementara. Ada yang mencoba melekat, menghindar, mengikat dan memudarkan warna. Betapa mudah aku dan ia saling tergoda, sampai kami sadar bahwa setiap pertemuan pasti mensyaratkan perpisahan, setiap harapan menyisa kecewa, setiap muncul perasaan memiliki maka kami harus pula bersiap kehilangan. Lantas kutulis surat untuk wanita yang hendak kutinggalkan. Sebab kutahu semua sementara, setiap upaya mengekalkan adalah sia-sia.
Wanitaku, aku pesilat kata yang berharap agar kau lekas terkesima. Kucipta mantera, kata-kata yang menyeret anganmu bergegas melayang jatuh di hijau daun-daun, jernih telaga, dingin embun,  istana langit,  dan rimbun tatapanku.   Celaka, kau begitu percaya, bahkan kau mengharap cerita lain yang membuat pagimu penuh  bunga tulip padahal kita di Indonesia.
Wanitaku, kini kau terlalu mabuk bualanku.   Sudah takdirku; di dalam mulut mengalir liur yang mampu merubah kertas koran menjadi sekumtum bunga tunjung biru, bunga yang seolah bisa menyelamatkan sergapan beratus racun yang mendekam di tubuhku.  Dan kau mestinya waspada bunga itu tumbuh di tubir  jurang yang curam, yang hanya bisa kupandang di kejauhan. Yang jika tetap kau memaksa dan hendak memilikinya, maka kau harus rela tergelincir, mabuk dan lupa jalan menuju rumahmu.
Wanitaku, adakalanya cinta dimulai dari kehilangan bukan memiliki.
Lantas segera kulanjutkan perjalanan, sebelum hatiku benar-benar tertahan oleh senyumnya. Sebuah tanya pada satu wanitaku; untuk apa tiga tahun tetap menunggu di jembatan batu, mendekap semua hari yang melulu rindu?  Sementara kaupun tahu bahkan dirimu tak sungguh-sungguh kau miliki.
*** Kepingan ke dua:
Beberapa mimpi buruk baru selesai menginjak pagi. Aku teringat Tanjung Karang, teringat lambaian ayah, ibu, kakak, adik, kekasih dan saudara yang menghilang ditebas kelokan.  Aku seperti berada di tepi jurang, yang setiap saat mengangan kakiku lalai menjaga keseimbangan hingga tubuhku turut jatuh terjengkang.  Dialog tak berujung pangkal. Dunia memutih, pohon-pohon mengapung di udara, tiga senyum wanita kutanggalkan di setiap perbatasan. Di kota ini setiap malam lahir ribuan mimpi yang mengusik tidurku sendiri. 
 “Ada banyak kesempatan tetapi tak kuasa kudapatkan. Bekalku tak kunjung memadai. Kerap aku tahu bisa tapi tak kunjung tergapai sebab kita tak sungguh-sungguh memperjuangkan.” Sesalku.
“Mengapa masih berjalan?”
“Menunggu kesempatan kedua.  Sambil menambah bekal di jalan, di setiap perhentian.  Merekatkan sobekan-sobekan kertas menjadi peta.”
“Adakah jalan atau cara lain?”
“Banyak sungai menuju satu muara, untuk apa mencari  sungai yang lain? Aku memang sempat tergoda, tapi tidak.  Setiap sungai harus meliuki beberapa gunung, menuruni lembah, terjun dari tebing yang tinggi, atau melewati hamparan sawah sebelum akhirnya sampai ke muara”
“Akan sampaikah engkau ke muara?”
“Tidak tahu.”
“Apa yang menghalangimu?”
“Keinginan.”  
“Keinginan?”
“Keinginan telah menjauhkan apa yang mestinya sudah kudapatkan. 
“Lantas mengapa rasa ingin itu masih kau simpan?”
“Aku bingung bagaimana keluar dari pikiran.”
DIAM
DIAM
 “Rumah sudah lama kau tinggalkan. Apa tak ingin sebentar menjenguknya?”
“Mereka…  tidak.”
“Ribuan buaya menunggu di muara, sebelum sampai pada asin laut, kau akan habis dilumatnya, mengapa masih kau memburu binasa.”
DIAM
“Misalnya kau ikut nasehatku.  Kita bisa jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat yang tampak abadi.  Kita akan pergi ke sebuah kota yang membuat kau tak pernah berhenti tertawa, takzim memandangi meriah kota.  Kau tinggal memilih lekuk tubuh dan macam lenguh yang hendak kau labuh.  Ada banyak model baju, sepatu, atau celana yang bisa kau kenakan sesuai dengan hari, musim, dan cuaca.  Kita bisa  mengunjungi sebuah menara tinggi sambil minum kopi di bawahnya, kau bisa bercerita kesan semalam di jembatan Ampera, tujuh hari bercengkrama dengan ikan-ikan di danau Toba, menikmati panorama laut Maluku, atau berlibur beberapa hari di Bali.    Seperti mereka, tersenyum bersama bunga matahari ketika pagi.  Jika bosan, kau bisa datang ke bioskop, jalan-jalan ke mal,  atau bisa juga berkunjung ke taman pinggir kota, tempat sepasang kekasih menjahit mimpi, menebar benih bunga perjumpaan dan keinginan untuk bersama.  Atau kau juga bisa merebahkan tubuhmu di padang luas sambil memandang biru langit ditingkah domba-domba yang berlompatan karena hijau rumput tak pernah ada habisnya.”
DIAM
 “Hai, mengapa kau begitu keras kepala? Cuaca berubah tak menentu.  Demam dan gigil tak henti memburu.  Nafasmu terbatas, seluruh cairan di tubuhmu akan hilang dihisap peluh yang tak henti luruh.  Lantas kau akan kering. Seperti pohon yang semua daunnya telah bermigrasi ke hutan tropis sementara kau ngotot bertahan di gurun pasir yang gersang menghampar.  Kau hanya menunggu dahanmu mengering, patah dan rubuh disengat kemarau.”
 (Aku hanya mengangkat bahu tanda tetap tak setuju)
Suara angin, membuka dan menutup jendela yang lupa terkunci. 
*** Kepingan ke tiga:
Rumah singgah selanjutnya, tetap sementara.  Sebuah malam bersama beberapa wanita, semua menunggu kukirimi sajak bertema setia. Maka segera aku menuliskannya.
Sepanjang usia bumi hanya satu matahari yang ada di benak pagi. 
Tidak perlu ragu bahwa sinarmulah muasal seluruh warna. Kamu menatapku, bertanya adakah warna lain yang tertinggal selain warna yang kau titipkan?
Tak ada, jawabku.  Sebab kau adalah malam dan aku kunang-kunang.
Enam dari tujuh wanita menjawab; Dusta. Sudah kuduga. Maaf, aku yang selalu ragu menebak arah bola matamu.
Di antara meraka ada Kala, ibu para siluman. Wanitaku, Tanjung Karang mulai lengang.  Aku kedinginan. Namamu menggema berulang-ulang.  Kau hapus nama-nama kota di mataku, kau titip jantungmu di dada yang selalu sesak ketika  senyummu mekar disiram temaram lampu.  Maaf, Kala tak bisa hilang dari mataku. Ia yang mengajakku berjalan-jalan, menyaksikan anak lupa jalan pulang.  Ia dibenci dewa-dewa kayangan, kami berlari menembus hutan berduri sebab mereka mengejar Kala hingga kami harus bersembunyi ke dalam hutan yang bertahun-tahun tak disentuh cahaya.
*** Kepingan ke empat:
Seorang sahabat yang takut  tertawa sendirian menelepon, sementara aku berselisih dengan rencana. Marka jalan tak henti berputar. Bising knalpot dan deru kendaraan menyergap telinga, tubuhku sempoyongan ditinggal harapan.  Tak sebuah pintu atau jendela terbuka. Aku tergolek  di kota yang seratus tahun tercekam ketakutan. Pohon-pohon ranggas dan besi berkarat menjadi lanskapnya. Dermaga kebingungan sebab tak sebuah kapal hendak bersandar.  Matahari mendekat hingga terasa tinggal sejengkal.  Aku tak berdaya, terjatuh, kulit hitam terpanggang.  Aku terus melangkah, kakiku tak henti bergetar. Aku tertawa. Jiwaku terbang, membayangkan sungai dengan airnya yang jernih, pohonan rimbun yang tak henti berbuah, hamparan rumput merupa permadani. Tiba-tiba nyeri menyerang, kerikil dan pasir masuk ke dalam sepatu, kakiku sobek, tapi darah tak lagi keluar, hanya kulit terkelupas dan daging yang menganga. Mataku bengkak, semua telah tampak samar.       
“Kamu harus bangkit, jangan menyerah.  Telah seabad ketakberdayaan mendekam  di kepala.  Kamu sudah baca ratusan peta, membaca arah angin, dan meditasi sampai ke bukit pelangi. Jadi bangunlah.”
“Sebentar.”
“Jika kesulitan bilang saja.  Jangan sungkan.  Akukan sahabatmu.  Aku pasti senang jika bisa membantu.  Tetapi saat kita berjumpa awas jika mimpi itu tak kunjung kau gapai, apalagi malah  memilih bunuh diri karena merasa hidup tak berarti.  Aku tak ingin tertawa sendiri.  Kau tahu, kita tetap butuh teman agar bisa benar-benar bergembira.” 
“Aku tahu.  Menikmati sore dan lenguh wanita sebatas intermezo. Tenanglah, aku juga  tak ingin  berhenti. Meski sepanjang jejakku dikelindan debu dan batu.”
Telepon hampir kumatikan.   Sementara ramai kudengar tetangga menukar mimpi dengan beberapa kilo beras dan susu anaknya.
 “Jangan khawatir.  Aku hanya sedikit terganggu dengan perubahan cuaca.”
“Apakah Kala masih kau simpan di satu bola matamu?”
“Masih.” 
“Aku tak ingin bilang itu takdir, aku tak ingin bilang bahwa itu nasib. Banyak malam kubayangkan; kau datang memberi sebuah kado tanda pertemanan.  Tak kau rasa Eiffel yang merana di Paris, terusan Panama yang kesepian, tembok Cina yang menggigil kedinginan, Borobudur  termangu menunggu hadirmu. Oia, beberapa pengarang besar dunia mengundang kita agar suatu hari bisa minum teh bersama di puncak Himalaya. Sambil berbincang tentang musim semi, tentang kesibukan memberi nama-nama bintang, tentang orang-orang yang kebingungan mencari alamat rumahnya sendiri, tentang hutan yang membakar dirinya, tentang kelaparan yang mejarah hampir seluruh negeri, tentang banyaknya remaja yang tak berani keluar rumah ketika  pagi. Atau tentang berapa banyak uang yang masih tertinggal di dompet kita. Lantas semua tertawa.” 
*** Kepingan ke lima:
Di rumah singgah tak terhingga. Mestinya langit sepia. Sendiri aku menatap lumpur dan jejak sepatu.  Kubuka pintu,  angin berhembus kencang.  Beberapa foto wanita terbang, hilang dipungut serangga.  Aku terdiam dan tak bisa menolak untuk bahagia. Sebab di Tanjung Karang seorang kekasih dan jembatan batu masih selalu menunggu.  ***

Februari 2009
Cerpen Alexander G.B.
Dimuat di Jurnal Nasional

0 comments: