Mahadewi

Jumat, April 08, 2011 Alexander GB 0 Comments


1
Kusebut engkau Mahadewi. Wanita dengan paras langit jingga, tubuh laiknya biola, dan senyum serupa petani-petani menjelang musim panen yang sebentar lagi tiba. Aku menjumpainya di sebuah malam yang tidak istimewa, ketika ia hadir di sebuah taman dengan pakaian berwarna ungu, di antara orang-orang kepalanya sesak oleh masa lalu. Ia datang saat aku menyiram bunga dan teringat ibuku.
***
2
Pagi hari, seorang lelaki menyiram bunga, seorang wanita di dekatnya.
“Apakah kau sedang menduga-duga cuaca?”
“Tidak.”
“Kamu takut?”
“Mungkin, tapi tidak persis begitu?”
Diam.
“Kamu ingin menemui siapa?”
“Seseorang, katanya aku harus menunggu di sini.”
“Kenapa tidak menunggu di tempat lain, misalnya di halte atau perempatan jalan, kenapa menunggu di taman ini?”
“Dia yang memintaku.”
“Temanmu dari kota lain?”
“Mungkin malah dunia lain. Dia meminta aku menunggu di sini. Sebuah taman yang dikelilingi pagar berwarna hijau, beberapa anggrek hutan tiap sudutnya, empat pohon palma yang berdiri sejajar, bangku taman berwarna tembaga, halaman yang ditumbuhi rumput gajah, seseorang yang memakai celana hitam dan kaos berwarna biru yang sedang menyiram bunga.”
“Bagaimana kalau nanti aku pergi?”
“Kamu akan tetap di sini sampai ia datang.”
***
3.
Tanjungkarang sekarang terlalu banyak sore yang dipenuhi gerimis. Begitu tiba malam, langit tak ditemani bulan atau bintang. Hanya ada desah orang-orang yang menuntaskan birahinya, juga lolongan serigala. Aku turut berduka dengan kesenyapan yang ia rasakan. Sementara siang jadi penuh debu, debu yang semakin menyesakkan dada yang sebelumnya telah penuh impian yang gagal mewujud jadi kenyataan. Ujarnya dalam sebuah surat yang ia kirimkan.
Jalanan basah, orang-orang meratapi jendela, beberapa debu menyusun bunga air di lantai beranda. Rumah-rumah kayu lebih cepat rapuh dari biasanya, juga tentang banyaknya suami isteri yang lupa dengan janji-janji untuk hidup bersama. Cuaca tak lagi bisa diduga.
***
4.
Sebuah sore.
“Dia belum datang juga?”
Wanita itu diam. Sorot mata lelah.
“Pulanglah, besok kamu bisa kembali menunggunya di sini. Hari mulai gelap,” ujar seorang lelaki penyiram bunga. Langit kemerahan. Angin bertiup pelan. Dan wanita itu masih duduk di bangku taman berwarna tembaga. Diusap perutnya dengan pelan.
“Sudah takdirnya.”
Ia menghela nafas panjang. Menengadahkan kepala. Lantas melangkah dengan kaki setengah terseret, dan kepala menunduk sepanjang jalan menuju rumah yang tirainya hampir semua biru.
Itulah mula perkenalan. Lantas sekian hari kami lewatkan bersama. Hingga tiba waktunya aku harus pergi. Dan ia membiarkan saja sebab tahu aku pasti kembali suatu ketika.
***
5.
Aku duduk di sebuah kafe di pinggir kota, mendung hitam memeluk langit, mungkin hujan segera datang. Kunyalakan sebatang rokok, lantas meneguk segelas bir yang tak pernah dianjurkan bapakku, membiarkan beberapa kenangan hilang di antara kepulan asap.
Di sini, pernah kau tawarkan beberapa sajak yang terlalu sulit kupahami, kau ciptakan ruang yang tak kukenali hingga dengan langkah malu-malu terpaksa aku meninggalkanmu. Maaf, aku tak bisa bersama. Ujarku ketika itu. Aku masih tak suka kau duduk sambil membuka baju di ruang tamu.
Kekasihku, mungkin puluhan atau ratusan kapal akan singgah di dermagamu. Kapal-kapal dengan muatan yang hanya biasa kuimpikan. Banyak barang berharga di kapal-kapal mereka yang membuat dirimu segera lupa bahwa kau tak tinggal di istana. Di antara ratusan kapal mewah itu aku memandangimu di kejauhan. Berdiri di atas perahu kayu, yang hanya kuisi dengan rayuan cengeng tentang cinta dan kasih sayang. Tetapi aku punya banyak cerita, yang membuatmu bisa berbahagia meski dengan cara yang lebih sederhana.
“Maaf sudah mau tutup, Pak.”
Seorang pelayan kafe mendatangiku, roknya mungkin terlalu tinggi dan dengan sopan memintaku segera memilih untuk permisi.
“Oh iya,” ujarku sambil menelan ludah yang disebabkan semata-mata karena birahi. Ia mengerlingkan mata, mengambil pena lantas mencatat semua makanan yang telah kupesan, dan aku segera membayarnya.
“Ada yang belum,” ujarnya.
“Apa?”
Ia mengambil sebuah tisu di mejaku lantas menuliskan beberapa nomor yang bisa kuhubungi jika ingin melewatkan malam bersamanya setelah lampu kafe mematikan. Aku mengangguk senang dan menyimpan pahanya di kepalaku lantas segera berlalu.
***
6.
Maaf, aku tak memberi kabar sebelumnya. Malam ini aku sampai di kotamu. Tempat ribuan cerita pernah kita tulis bersama sepanjang pantai bila tiba sore hari. Ketika langit masih ada yang jingga. Berjuta kata tentang kehangatan dan kebersamaan pernah kita percakapkan, seperti ketika kita mengurai nama-nama bunga yang tumbuh di halaman rumah atau ketika kutemani kamu di dermaga itu. Lantas kuduga rindumu bertumpuk-tumpuk bersama berjalannya waktu, yang tingginya melebihi bukit-bukit yang menjadi lanskap kota ini.
“Mengapa kau begitu lama meninggalkanku, harapan, keingian untuk bertemu denganmu kian menjulang, seperti Liberty, Eiffel, atau puncak Himalaya yang bisa kaulihat dari setiap sisi kota ini,” katanya di telepon. Aku diam.
Dulu, aku masih ingin menduga-duga cuaca sehingga mengabaikan dirinya. Menguji sebarapa jauh kaki ini sanggup melangkah, menandai kota-kota yang sering hadir pada malam-malam penuh bintang, lantas mengumpulkan kisah-kisah itu di sebuah koper tua pemberian bapakku dan kuharap bisa menjadi bahan cerita ketika kembali ke kota ini.
***
7.
Di kota-kota yang kusinggahi, selalu penuh dengan surat yang ia kirimkan, hingga petugas pos begitu hafal jenis perangko, huruf, dan alamat yang ia gunakan.
“Kenapa kau tak telepon aku jika rindu, atau kau kirim SMS biar lekas tuntas dan tunai apa yang ada dalam benakmu?” ujarku.
Kau menolak saranku dan lebih memilih berkirim surat yang jika kukumpulkan bisa menjadi novel panjang tentang rindu dan menunggu.
***
8.
Surat-suratmu mengabarkan wajah kota yang telah berubah, kota yang semula ramah dan hijau, penuh debur ombak dan nyanyian camar kini tandus tak terurus. Seperti kulitmu yang kini mungkin sudah mulai kusut digerus keluh kesah yang bagai air mancur kau tuliskan berlembar-lembar di surat-surat yang kamu kirimkan. Engkau terus menunggu hanya untuk menegaskan bahwa masih ada setia yang selalu kau jaga.
Kau berjanji ada taman yang terus menantiku kembali.
Meski aku tak begitu percaya, akhirnya aku kembali juga. Hasrat yang dulu membuatku meninggalkanmu mulai sirna. Memang dulu kau biarkan aku pergi, namun tak pernah membiarkan aku bebas berjalan, kau terus berkirim kabar hingga aku tak mampu mengelak untuk pula merasakan betapa sendirinya dirimu.
Kini, di tengah malam berkabut, di ujung napas yang mulai payah oleh perihnya harapan yang kau titipkan, akhirnya aku sampai juga di kotamu. Kota yang kecil, tenang, dan nyaris tanpa kejutan. Pernah kita bertemu 10 tahun lalu, di taman kota, ada air mancur, kolam yang dihuni beberapa ikan mas dan bunga teratai. Kita habiskan malam dengan memesan minunan dan makanan ringan beserta cerita-cerita usang yang telah banyak ditinggalkan orang. Kita pungut cerita-cerita yang berceceran di trotoar, seperti daun-daun akasia yang gugur di sepanjang jalan menuju rumahmu.
Lantas kita berhenti, duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga lantas melanjutkan cerita tentang tujuh pasukan berkuda. Sekilas engkau melihatku, sementara aku menatap cakrawala. Pernah kuabaikan seluruh perasaanku kepadamu, juga keinginan untuk merebahkan kepala, sebab aku tahu belum melakukan apa-apa, sehingga tak pantas untuk bercinta. Dulu aku tergoda cuaca, tapi aku tak menyesalinya.
Setelah 10 tahun berjalan entah ke mana, tiba-tiba aku ingin kembali kepadamu, yang kupikir selalu setia. Wanita bergaun ungu. Ada dorongan aneh memaksaku memesan tiket dan sampai di kotamu, kota yang dibatasi debur ombak, suara camar, dan iring-iringan perahu nelayan yang sebagian berlayar dan bersandar.
***
9.
Sudah pukul sebelas malam. Maaf aku tak ingin mengganggu tidurmu. Kubiarkan pintu dan dan jendelamu tertutup. Aku diam tepat di depan rumah, menyentuh gerbang, melihat lampu kamarmu yang masih menyala lantas berlalu. Malam ini aku ingin menjumpai kawan lama yang mungkin sejak sore tadi menantiku di pinggir Jalan Kartini. Di tenda-tenda sepanjang jalan itu, kunikmati segelas bir kembali, satu dua kendaraan melintas, kuhempaskan perasaan rindu pada sahabatku yang sudah sepuluh tahun pula tak kujumpai. Setelah itu aku ingin menjumpai pelayan kafe yang tadi sempat mengirimkan isyarat hendak bertukar hasrat.
***
10.
Menjelang pukul dua belas tinggal satu dua kendaraan yang masih melintas. Suara-suaramu yang tadi resap ke tanah bangkit mencariku. Sementara, di halaman, di bawah jendela bertirai biru muda itu seekor katak, jangkerik, belalang sembah, burung hantu, seekor kucing yang kesepian, dan deru angin dari selatan terus berbunyi, melantunkan malam-malam yang telah lama tak ada kejutan, sebentuk komposisi ganjil, sebentuk orkestrasi kealpaan yang kurasakan. Suara-suara yang tadi sempat resap ke tanah dan telah bangkit itu kini mengendap-endap dari pintu belakang, menyelinap ke ruang tamu, menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar wanita di lantai dua dengan kerasnya.
Wanita itu, pelayan kafe itu tertegun. Diam. Lemari dan ranjang bergetar. Ia masih enggan beranjak dari depan pintu. Senyumnya membawaku terbang. Tetapi di matanya kutemukan puluhan lelaki. Angannya melayang jauh ke langit yang senantiasa hitam. Tak ada air mata. Tak ada rengek takut atau kesedihan. Hanya helaan napas dan dada yang semakin sesak.
Digigitnya bibir yang semerah apel itu, hingga tak sadar ada hati yang hancur malam itu.
“Bagiku jika di langit tak ada bintang, aku akan mencari kunang-kunang.”
***
11.
Pelan-pelan, tirai biru muda dan jendela itu tertutup sempurna. Lampu kamar yang semula remang kini gelap gulita. Suara langkah menjauh. Seekor kunang-kunang menunggu di halaman di dekat jendela, sebentar hinggap di pohon mangga, lantas lesap di balik bayang pohon yang hitam. Aku masih duduk, menciumi bangku kayu di taman itu lantas turut menghilang, pohon-pohon menggigil. Sebab, akhirnya aku tahu, pelayan kafe itu adalah dirimu yang pernah berjanji untuk selalu setia kepadaku.***

Bandar Lampung, Agustus-Oktober 2009
Cerpen Alexander G.B.
Dimuat di Jurnal Nasional 01/24/2010

0 comments: