Nina

Kamis, April 07, 2011 Alexander GB 0 Comments

Oleh : Alexander GB



Kau menundukkan kepala dan mencium tanganku. Sopir bus menghidupkan mesin sementara tanganku basah oleh air matamu. Sesaat kau memelukku, merapatkan tubuhmu ke tubuhku. Aku terhenyak dan baru sadar ketika klakson bus memanggilmu.


“Aku takkan melupakanmu, pergilah.” Ujarku.

Isakmu tertahan dengan kaki terus melangkah memasuki bus yang segera mengantar ke kota yang bermalam-malam mengganggu tidurmu, meninggalkan kamarmu yang penat dan penuh lolongan serigala.

“Aku segera mengirimimu kabar sesampainya di sana,” teriakmu sambil melambaikan tangan dari jendela.
Kau tinggalkan sapu tangan merah jambu di tanganku. Pagi dingin sekali.

***
Butir-butir air di tanganku menguap dan mencipta bayang wajahmu yang bertahun-tahun melekat di dinding kamar bersama sederet pesan yang tak kunjung mampu kuhapus dari ingatanku.

Aku sering mendengar gelas dan piring pecah di dapur ibu, bapak sering salah menyebut namaku sementara meja makan telah lama lebih beku dari batu. Jika malam bapak dan ibu berubah menjadi serigala, taring dan kukunya tajam, mereka tertawa setelah berhasil merampas remajaku yang semestinya riang. Aku tak ingin jadi boneka dengan lolongan serigala di sampingnya. Mungkin dulu mereka juga seperti itu dan aku menolak mengulangi siklus yang mereka peluk seperti agama. Aku harus pergi.

Waktu itu sore hari, sebalum ia memutuskan mengemasi baju dan foto-foto masa kecil dan remajanya di tas hitam yang erat melekat di punggung Nina pagi itu. Nina mengajari bagaimana menertawakan ayah dan ibu. Mengolok-olok dunia yang seolah tak lebih luas dari dapur dan ruang tamu. Sungguh aku tertawa saat ia mengatakan ada hal yang membahagiakan ketika melewati pagar bambu yang dibuat bapak, menolak sosok ibu yang hanya pandai arisan, mencuci dan menyeterika baju, atau menjadi album keluarga yang teronggok sendiri di ruang tamu. Ia selalu bilang langit tak semua biru atau abu-abu.

Kini Nina mulai pandai bercerita tentang rok mini, kunang-kunang dan aquarium. Katanya air mancur tengah kota menari-nari sepanjang siang dan malam. Lampu-lampu berkedip, orang-orang menjinjing tas sambil berlari riang, suara klakson berbagai jenis kendaraan terdengar di mana-mana atau dering telepon yang tak pernah berhenti laiknya iklan-iklan di televisi.

Sementara aku masih bercerita tentang layang-layang, petani yang tersenyum menjelang panen, bunga kopi yang bermekaran, rumah panggung berwarna coklat tua, hutan bambu dan padang rumput yang hijau, serta angin gunung yang dingin dan segar.
Kemudian kami kembali tertawa karena tahu sama-sama berdusta.
***

“Selamat malam. Boleh aku duduk di sini?” ujar seseorang bermata redup di sebuah kafe. Ia duduk tanpa menunggu persetujuan sambil menyodorkan gelas dan minuman, kami bercakap dan saling bersulang. Tidak lama kemudian sebuah tisu dari tas kecil pelan-pelan menghapus sisa minuman yang tertinggal di ujung bibirnya, sangat pelan, seperti ada rasa sakit yang sedang ia rasakan.

“Ada yang kau cari di sini?”
“Seorang teman lama.”
“Sudah bertemu?’
“Belum…”
“Di mana alamatnya?”
“Tidak tahu, tetapi ia tinggal di kota ini.”
“Oh. Kamu tampak sangat lelah sementara tinggal saja bersamaku kebetulan aku tinggal sendiri.”
Menjelang pukul 11 malam, ia mengajak pulang. Rumahnya berwarna hijau. Aku sedikit sungkan sebenarnya. Di ruang tamu yang dindingnya berwarna jingga, dengan lampu yang agak remang percakapan berlanjut.
“Sepertinya kamu dari jauh?”
“Aku dari seberang.”
“Mestinya kamu menelpon dulu, dia bisa menjemputmu di terminal atau stasiun kereta. Jika salah jalan kamu bisa kesasar bukan? Di sini semua orang hanya peduli dengan urusan sendiri. Kamu mau minum apa?”
“Kopi kalau ada.”
“Tentu ada. Kebetulan malam ini aku tak bergairah untuk bekerja jadi aku bisa menemanimu.”
“Di rumah ini kamu hanya sendiri?”
“Seharusnya tidak, lelaki yang memberikan rumah ini baru pulang enam bulan yang lalu. Kamu sudah lama tak bertemu dengan wanitamu?”
“Mungkin 10 tahun. Kamu sudah menikah?”
“Belum, hanya beberapa tahun bersama seseorang. Tetapi lama-kelamaan tampak bahwa kami tidak cocok lalu berpisah. Selalu begitu. Selama itu kalian tidak saling bertukar kabar?”
“Sesekali kami saling berkirim kabar lewat surat. Apa kerjamu?”
“Menemani tamu. Kamu sudah menikah?”
“Aku menunggu dia pulang.”
“Kamu aneh, kenapa dulu kau tak menahannya? Mengapa kau biarkan ia pergi ke kota jika benar kau ingin hidup bersamannya? Bagaimana jika ternyata ia sudah menikah, atau misalnya ia tak seperti orang yang kau harapkan.”
“Aku tidak tahu. Apakah ia pasti berubah?”
“Siapa yang tahu, katamu ia pergi sendiri dengan tujuan yang tak jelas, kamu pasti tidak tahu kesulitan yang ia hadapi juga tidak tahu bagaimana ia menghabiskan waktunya setiap hari.”
“Dulu ia sering menulis surat, tapi sudah beberapa tahun ini tak mengirimiku surat lagi.”
“Dan dia tak pernah pulang?”
“Tidak. Ia tak kunjung berubah. Ia tak mau menerima kampung sebagai kampung. Itulah sebabnya ia memutuskan pergi ke kota, dan berkeras untuk tak kembali. Kampung sepertinya tak mampu menampung harapan dan gairah remajanya.”
“Apakah kau masih menerimanya jika ia pulang?”
“Tentus saja. Di sini ia tak bahagia, ia selalu bercerita tentang tembok-tembok dingin, tentang sekumpulan serigala, kunang-kunang dan hantu-hantu lain selain ayah dan ibu.”
“Sudah lama kau mencarinya?”
“Seluruh sisi kota ini sudah kuselusuri dalam beberapa bulan ini.”

Sepanjang percakapan matanya terpaku pada jendela. Malam semakin larut, kurebahkan tubuhku di sofa sementara ia masuk ke kamarnya. Kulihat di luar banyak lampu menyala dan kendaran yang tak henti melintas. Tiba-tiba kisah lama kembali meluap di kepalaku, aku teringat ketika berpisah dengan Nina, sudah lama tak kudengar kabarnya.
***

Suara di ruang tamu

Masihkah kau di kota ini Nina? Sempatkah kau mengingatku selain sibuk mengumpulkan kepingan dirimu yang tertinggal di mal, jalan-jalan protokol, persimpangan dan gedung-gedung yang lebih dingin dari salju? Sungguh aku selalu terkenang sebuah kurun yang penuh kegembiraan dan keisengan yang lugu bersamamu. Aku teringat ketika kau tersenyum di beranda petang, bermain lumpur menemani bapak membajak sawah, atau menemani ibu menanam sayuran di pekarangan.

Aku mencarimu sebab sapu tangan merah jambu yang kau titipkan terus menggangguku. Kebahagianku menerobos kabut, berdiri di ujung jalan sambil menatap rumah-rumah kita yang gemetar menahan malam penuh angin. Tanpa kata-kata kusaksikan roh-roh bergentayangan setiap kali hutan terbakar, sawah-sawah terlantar. Kupantulkan kilatan hasrat setiaku pada jalan berbatu, pada kelok sungai, dan luka yang melekat di mata ibu.

Suara dari kamar yang penuh selang infus.

Kota ini selalu menjanjikan taman bunga bagi kupu-kupu, juga wanita yang matanya api. Mengapa kau tak pernah mengerti. Mengapa kau selalu hendak menyeretku ke masa lalu yang diam dan beku. Aku tak mau. Biarlah aku terkubur hasratku seperti api dimataku yang terus berkobar dan meredup sebab yang datang bukan yang dinanti. Aku tak bisa menyediakan segelas teh ketika pagi, atau mengirim makan siang setelah kau lelah menyiangi rumput di ladang, atau menyanyikan tembang-tembang hujan ketika kemarau datang.

Di kota ini aku kerap diserang demam tinggi, celana dan bajuku koyak di sana-sini, kulitku hitam dipanggang matahari, bertahun-tahun menyimpan bara di dadaku dan kau tak ada di sampingku. Aku masih berdiri meski bibir pucat mirip tanah dihantam ratusan kemarau, lenguh kesepian memahat jantungku. Aku semakin latah mengurai cuaca, tubuhku bau amis besi-besi,dan hatiku kian tembaga. Pulanglah, aku dan kota ini terlanjur mengikat janji untuk tak saling meninggalkan.
***

“Jadi pulang hari ini, minum teh dulu.”
“Iya. Terima kasih. Boleh minta tolong padamu?”
“Apa?”
“Jika kebetulan bertemu Nina, berikan kembali saputangan merah jambu ini padanya, aku telah berusaha menjaga, juga mencarinya. Tetapi mungkin kami tak ditakdirkan untuk bersama.”
“Baik, nanti kusampaikan. Ada lagi?”
Sesaat diam. Hanya dengus nafas yang terdengar. Udara masuk dari sela jendela yang sedikit terbuka.
“Tidak.”
“Baiklah. Oia, kau tampak kurus dan kotor. Menunggu ternyata membuat kau lupa mandi dan gosok gigi. Sebelum pulang bersihkan badan, potong rambut dan cukur kumismu .”
“Baik.”

Aku segera beranjak ke kamar mandi, ia memberi handuk, sabun, gunting dan pakaian simpanannya. Di kamar mandi kulihat tubuhku penuh bukit yang menggelupas, hutan-hutan hangus terbakar, banjir bandang yang datang ketika hujan. Di mataku pagar-pagar beton juga ramai tumbuh, mengganti pagar bambu buatan bapakku. Ibu sudah lama tak menanam terong, bayam, tomat dan memelihara ayam di pekarangan. Sekarang ibu sibuk menatap orang-orang berlalu lalang di jalan sambil mencari gosib terbaru bersama para tetangga.

“Terima kasih. Aku pulang sekarang.”
“Hati-hati di jalan.”

Tiba-tiba semua menjadi dingin. Sangat dingin. Ketika aku melangkah meninggalkan rumahnya, sapu tangan kutinggalkan di ruang tamu dan ia menatapku. Ketika menutup pintu kutahu nafasnya tertahan, tapi aku terlanjur pergi.

Sepintas kulihat sungai yang mengalir di tubuhnya, hutan yang lebat, orang-orangan sawah, juga rombongan burung pipit yang berpesta sebelum padi-padi dipindah dari sawah ke lumbung belakang rumah. Daun-daun hijau berguguran. Ia tetap berusaha tersenyum. Dari balik pintu kudengar butir-butir hujan turun sangat lebat. Sementara di jalanan aku melangkah di antara sobekan-sobekan kertas, daun kering, dan debu-debu yang diterbangkan angin.

Udara di luar dingin sekali, seperti pagi di terminal ketika kamu meninggalkanku 10 tahun lalu.

0 comments: