Silam

Senin, April 11, 2011 Alexander GB 0 Comments


1.
Bersedihlah engkau Silam. Ketika pagi tak memberimu sejumput harapan. Ketika malam tak membawakan keteduhan. Tetapi jangan menangis. Sebab tangis tak membuat rumput yang kering hijau kembali, tak membuat hutan yang terbakar rimbun kembali. Silam, jikalau tiba malam dan engkau takut sendirian segera buka jendela, pandanglah langit, mungkin masih bisa kau dapati diriku sebagai bintang-bintang yang akan menemanimu dari kejauhan, dan berdoalah. Telah kukirim kunang-kunang membawa semua keluh kesahmu kepadaku, hingga kamu bisa lepaskan bebanmu menjadi gumpan-gumpalan awan. Tak perlu hitam, tak perlu hujan. Berjanjilah untuk tetap tersenyum. Sebab bagaimanapun senyum lebih baik daripada tangisan. Meski hatimu telah berubah belukar, atau merupa pohon-pohon yang ranggas ditinggalkan daun-daunnya bermigrasi ke kutub selatan. Tetaplah tersenyum. Takdir bukanlah kenangan, maka nikmatilah setiap jengkal luka yang terhidang di meja makan, mungkin luka itu bisa mengantarmu untuk sedikit mengerti tentang sepenggal kebahagiaan, tentang diri yang katamu kini tak lagi berarti.

2.
Mengapa kau sebut dirimu ingatan? Ingatan yang katamu berasal dari derit jendela. Tempat kau luapkan sejuta keluh kesah yang tak jelas dimana awal dan kapan akhirnya.

Sebentuk gelombang elektromagnetik membuat imajinasi Silam kerap terserap ke dunia lain secara tiba-tiba. Mungkin ke muasal luka. Masa lalu yang diam. Tentang sesuatu yang berpuluh tahun terpaksa dipendam. Dibekap oleh keadaan yang tiada pilihan kecuali menerima. Wanita itu adalah Silam. Ia menatap rumah tempat ia hendak menuntaskan nafasnya. Lampu-lampu gemerlapan di jalan bercabang, di halaman yang luas dan hijau dengan sebuah kolam dan air mancur di tengahnya. Televisi menyala tapi tak ada penontonnya. Terus menyala hingga ia kehabisan acara. Kudengar suara lirih bergema dari sebuah kamar, mungkin suara Silam yang sedang berdendang sendirian, melantunkan lagu-lagu yang bernada duka melulu.

Dari tempatku yang jauh, kulihat rumah Silam yang mirip istana, dulu kuduga Silam akan bermandi gelak tawa. Tetapi ternyata tidak. Laki-laki yang tinggal bersamanya adalah pilihan orang tuanya. Aku tak tahu berapa tahun ia menjalani hidup di rumah mewah itu. Faisal nama lelakinya, gemar bisnis dan gila kedudukan. Beberapa kali menggelar Begawi untuk mendapatkan gelar kehormatan di kota ini. Demikianlah adat mesti dijunjung. Ujar Faisal membela diri. Silam tak membantah. Ia juga tak menyalahkan Faisal punya pendapat semacam itu. Sedikit dia bersyukur sebab Faisal masih ingat leluhur. Hanya kepada lelakinya itu Silam bersetia. Demikian hidup yang mesti ia tunaikan.

Tetapi pada sebuah pagi yang tembaga, cermin itu membuatnya menahan nafas karena sangsi mestikah ia jalani hidup sebatas kamar dan beranda.
“Aku semakin tua. Tak lagi punya teman. Sungguh menyedihkan.”
“Kamu tersiksa?”
“Tidak tahu. Aku merasa telah kehilangan semuanya. Apa aku masih pantas hidup?”
“Bagaimana kamu sampai punya pikiran semacam itu? Bukankah kamu sudah memikirkan masak-masak keputusanmu? Bukankah kamu bisa melakukan banyak hal untuk menghibur dirimu. Sekarang kamu punya segalanya bukan?”
“Tidak. Aku tidak bisa kemana-mana. Situasi ini menyulitkan diriku, aku harus tetap di rumah. Aku sudah menduga sebelumnya.”
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
“Tidak, aku tk sungguh-sungguh tahu apa yang mesti aku lakukan.”
“Hidupmu bergantung pilihan-pilihanmu.”
“Ya, aku juga sempat berpikir seperti itu. Mungkin aku salah memilih, tetapi dulu memang aku tak boleh memiliki pilihan, sekarang aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, mungkin karena aku tak kunjung menerima pilihan mereka buatku.”
“Mungkin.”
“Mengapa kau tak meninggalkan rumah ini? bukankah kamu bisa keluar barang sebentar? Lantas kamu bisa pergi kemana kamu suka.”
“Sekarang berbeda.”
“Tetapi semakin lama kamu akan semakin tersiksa.”
“Cukup.”
Cukup berarti sepi. Diam. Nampak tak terjadi apa-apa. Tetapi terkadang ketika diam itulah suara-suara dari delapan penjuru angin mengepungnya. Lalu ia lupa bahwa semua itu hanyalah ingatan. Tetapi ia tetap terluka.

***
3.
Sudah silamkah diriku. Ujar Silam membatin. Jendela itu adalah jurang yang membuatnya berulangkali terjerumus pada beberapa peristiwa yang ingin ia lupakan, lorong panjang berdinding hitam. Ketika jendela itu terbuka disiram lampu kamar yang lamat, sebuah kursi dan sepasang tangan bertopang dagu. Lorong-lorong gelap itu barangkali adalah sesal, sialnya terlalu banyak sesal yang bertebaran yang mencipta butiran air mata sebagai salah satu penanda tentang sesuatu yang ia sebut kesedihan. Barangkali ini sebuah ekspresi dari keputusaan ketika pagi tak lagi menyediakan harapan dan tawa.

Harapan bagi Silam adalah ketika masih bisa membayangkan dirinya duduk bersama tokoh-tokoh idolanya tanpa rasa bersalah. Ketika ia diberi kebebasan memilih apa yang ia senangi, apa yang ingin ia wujudkan, dengan siapa ia hendak membangun rumah, memilih warna sepatu, model baju dan lain sebagainya. Tetapi belakangan di Tanjungkarang tidak bisa lagi begitu. Silam mulai gagap menggunakan bahasa yang di ajarkan ibunya, tak pernah mendengar Sagata, Hahiwang, atau pesta Sakura. Ia mendengar teman-temannya semakin bingung ketika diminta memperkenalkan diri.

“Kenapa kamu tak undang mereka kemari, aku ingin membaca dongeng-dongeng lama tentang keluarga kita.”
“Sudah basi. Mestinya kamu mengerti bahwa zaman sudah berubah. Setiap hari rtusan peristiwa dan silih bergnti. Mengapa kamu hanya mengeluhkan tentang kisah-kisah yng museum pun tak mau menyimpannya.”
Gedung-gedung bertingkat bertebaran, hotel dan rumah makan berdiri di sana-sini. Tugu-tugu perbatasan gagah menjulang, jembatan layang, mal, atau pertokoan juga turut mewnai Tanjungkarang. tetapi mengap Silam masih tetap bersedih hati.

***
Ketika lelakinya tak ada ia tetap di rumah, membersihkan kamar, halaman, memasak, menunggu suaminya pulang. Ia tak tahu mengapa sekarang ia sering sendiri di rumah. Berhari-hari sudah Faisal tak pulang. Ia tak hendak menduga-duga. Mimpi-mimpinya ia biarkan lepas berhamburan di jalan-jalan, diterbangkan angin kemana-mana sementara tanganya terus merajut butir-butir air itu menjadi benang, dan berubah menjadi kain yang dijadikan selimutnya ketika melintasi malam.

Silam mengutuki nasib yang tak berpihak berulangkali. Ia tertawa, menari di kamarnya. Silam hidup dalam dongeng-dongeng masa lalu. Tentang leluhur yang pelan-pelan kian kabur. Ia menghela nafas, nafas yang berat dan dalam. Rongga dadanya mengembang dan mengempis. Udara terhembus dari paru-baru, terburu-buru. Berulangkali ia mencoba menenangkan diri, selalu gagal. Percuma. Tetap tak lega-lega meski ia mencoba ribuan kali.

***
Silam mencoba bebas dari dendam dan rasa ditinggalkan. Ia takut berpikir. Tetapi jika tak berpikir bagaimana ia bisa melakukan sesuatu ketika matanya terbuka. Ingatan tentang luka mengendap-endap, kemudian berdesakan dan seperti tank-tank baja akan melindas hati Silam sampai gepeng. Sebuah teror yang menggelisahkan. Di dalam mimpi, tangan Silam menggapai-gapai, tetapi tak ada yang bisa disentuh. Ia terjebak pada kenangan buruk yang merupa kuku-kuku tajam atau taring serigala. Silam tak hirau pada waktu, yang setiap detaknya mengantar beberapa bingkisan dari neraka. Bertahun-tahun kebebasannya didesak dan dihimpit oleh rasa takut dan semacamnya.

Ia tengok jalan Kartini, Raden Intan hingga Pagar Alam, congkak macam-macam bangunan berdiri di kiri dan kanan jalan, hotel-hotel gemerlapan sembari memamerkan paha dan celana dalamnya, mal dan minimarket disesaki orang yang belanja mimpi buruk setelah kerja keras sepanjang siang. Mati menjadi impian semua orang. Silam melihat antrian panjang orang-orang di pintu kuburan, mulut mereka tak henti berkomat-kamit memanjatkan doa agar segera tiba giliran dimakamkan. Wangi kamboja menyebar ke mana-mana, puluhan burung gagak muntah dan sebagian mati karena kekenyangan. Orang-orang berpaling dari dirinya sendiri. menggerutu, menggutuki tanah subur yang membuat tubuh mereka kurus tak terurus. Tak ada alasan untuk bunuh diri, tetapi mereka sangat ingin mati.

Sore, jalanan penuh orang bergerombol, mungkin ingin menghibur diri. Wajah menekuk, mata sayu, kepala tertunduk.
“Mau jalan-jalan.”
“Tidak.”
“Banyak orang di pasar, di jalan atau dan di hutan kota. Kamu bisa berkenalan dengan mereka. Bertukar cerita atau yang lainnya.”
“Tidak. lelakiku belum pulang aku harus tetap di rumah.”
“Ayolah, sekadar merubah suasana, tentu Faisal tak akan marah karena soal sepele semacam ini.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu enggan sekadar menyapa atau berkenalan.”
“Aku harus tetap dirumah ini.”
“Bukankah masih lama ia kembali.”
“Meski begitu.”
Aku menggelengkan kepala. Kecewa. Tetapi Silam juga mungkin kecewa. Tetapi meski sering kecewa Silam di depanku ia selalu bisa berpura-pura bahagia.

***
Tengah malam Silam terjaga, ia sendiri. Nanar matanya menatap gerbang dan halaman. Lengang. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, engsel jendela berderit. Di luar langit, gumpalan awan, bayang rumah dan pohonan, berkelindan dalam hitam. Ia ketakutan, rasa yang tiba-tiba hadir berderap-derap laiknya ribuan pasukan berkuda mendatanginya, sorak-sorai terdengar dari mana-mana, jerit kesakitan seperti genderang perang bergemuruh, sungai bandang. Terlontar tanya akankan ia selamanya seperti ini? Tinggal di ruang yang sempit sepanjang usianya? Ia menggelengkan kepala, tak tahu jawaban apa pun, setiap upaya menenangkan diri menjadi sia-sia.

Malam ini ia terdampar ke ruang lain yang tampak asing bagi ingatan. Ia menjejak sesuatu, seperti butiran-butiran halus menyentuh telapak kaki, lantas suara ombak tiba-tiba menyapa telinga. Pulau apakah ini? Hamparan pasir hitam panjang membentang. Pohon-pohon kelapa dan cemara berjajar rapi, semak perdu sepanjang bukit terhampar, hijau. Ia kembali mendengar kisah lama didongenkan pohon-pohon di sepanjang bukit barisan. Angin singgah di rambutnya. Pelan dan lembut. Tak ada suara motor atau mobil melintas, tak terdengar riuh bibir-bibir sewot saudara dan tetangga yang pamer perhiasan tiap arisan, tak ada berita kriminal di televisi.

Sekejap matanya terpejam, dada lapang ketika padang rumput menjadi serumpun pantun, riak ombak merupa sajak-sajak leluhur, dan gugusan karang berubah menjadi rumah-rumah panggung yang kini telah uzur. Ia tertidur, dalam tidur ia melihat sosok berlari ke sana kemari. Tertawa, melompat, bergumul dengan angin, bercakap-cakap dengan ombak dan pasir. Tiba-tiba Silam terdiam dan menundukkan kepala.
“Silam.”
Suara laki-laki memanggilnya.
“Iya.”
Lelaki bertubuh kekar berdiri di depannya. Ia merasa asing sekaligus seperti amat mengenali. Itu Faisal. Lelaki itu bermata api, ia keluar dari gunung kabut, bermahkota laiknya raja-raja, bajunya berwarna warni. Ketika lelaki itu mendekat, senyum Silam segera sirna, tubuhnya berubah kemarau. Sebab Silam tahu lelaki itu kini tak lagi menyimpan Sagata di tubuhnya. Barangkali terjatuh ketika melangkah pulang, ketika lelaki itu melewati jembatan batu di dekat perbatasan.

***
karya Alexander GB
Bandar Lampung, Maret 2010
dimuat di Bali Post, 4 April 2010

0 comments: