Hum ham hum, Hola-hola-hola

Rabu, September 28, 2011 Alexander GB 0 Comments




 by Alexander Gb

Dalam lingkaran api kami berteriak. Hola-hola-hola. Api menyala dan kami menari.  Tenggorokan serak tapi terus berteriak. Ini pasti khasiat mantera purba. Mantera yang kami temukan di ruang berdinding tembaga.   
Tuan Jung memberitahu sebuah rahasia saat kami nyaris putus asa karena dikurung orang tua kami sendiri. Ada sebuah mantera di ruang yang terlindung dari kenangan pahit dan kabar buruk mereka.
Burung-burung pengintai bersembunyi dalam rimbun pohon beringin. Bunyinya tak lagi menakutkan. Malam ini kami berkumpul di tanah kosong dekat perbatasan dan menyalakan api unggun. Kami tertawa sepuasnya dan berteriak hingga serak. Mata kami membelalak menatap jutaan bintang dan bulan yang tampak purnama. Kami tahu, di langit Tuhan sedang menyusun sebuah drama lain yang tak pernah kami duga.    
Hum-ham-hum hola-hola.
Berbicara, teruslah berbicara. tak perlu takut tak bisa dipahami orang tua kita. Terus berbicara dan menari. Tak perlu cemas, lepaskan rantai yang sekian tahun membelenggumu. Masa lalu yang membuat otakmu impoten. Jangan diam saja. Menarilah. Rayakan gairah dan geliat masa mudamu. Ayo menyanyi, menari, atau apa saja. 
Hum-ham-hum, hola-hola-hola. 
Sebagian orang menyemburkan api, lantas tertawa sambil berjalan terhuyung-huyung. Lagu-lagu dengan tempo yang sama terus didengungkan. Pohon-pohon dan rumput bergoyang. Semua menari dalam tempo dan irama yang harmonis. Keringat membanjiri tubuh, tapi hingga menjelang pagi gelegak tawa dan bunyi perkusi seperti belum mau berhenti. 
“Hola-hola-hola…Ayo kita tertawa…” 
Hum-ham-hum, hola-hola-hola.
Kamar kami seperti hutan. Sarangku berwarna pohon, rumput, dan batu-batu. Ada juga jerapah, badak, harimau, kukang, gajah Sumatera, dan buaya. Hum-ham-hum hola-hola-hola harus terus diteriakkan. Ia harus keras dan sesering mungkin sehingga roh leluhur berkenan datang setiap malam, menyiram kepala kami yang karatan. Anak-anak muda ubun-ubunnya disesaki birahi dan Coca-cola.
Api kembali menyembur dari mulut mereka. Awan hitam menyetubuhi angkasa. 
Hum-ham-hum…Ayo terus menari, berbagi bahagia dan cemas sampai malam tak bersisa...” 
Langit hitam, lidah api yang jalang terus melahap apa saja. Angin menggoyang-goyang pohon lebih keras dari sebelumnya. Hembusannya semakin kencang, api semakin kesetanan. Kami berteriak. Beberapa butir garam ditebar, letupan-letupan garam seperti bunyi petasan pada malam. Semarak.
“Hum-ham-hum, hola-hola-hola.”
“Purnama, kebebasan…hum-ham-hum hola-hola.”
Lalu matahari dating. Purnama menghilang. Kami pulang ke rumah masing-masing.
*****

“Darimana saja?”
“Hum-ham-hum, hola-hola-hola.”
“Bicara apa kamu?”
“Hum-ham-hum, hola-hola-hola.”
“Kamu gila.”
“Orang-orang-orang, asik-asik-asik, masuk dan tenggelam di dunianya sendiri. Pagi kerja, pulang bawa kabar buruk. Jangan keluar! Di rumah saja! Minum susu lalu tidur. Hummmmmm…..”  
Braakkk…
Ia membanting pintu.
Si Bapak berkacak pinggang. Tangan kanannya yang memegang botol minuman bergetar. Kota itu kini riuh setiap purnama. Tetapi orang-orang berperut buncit dan yang kepalanya ubanan tidak suka dengan mantera yang kami lantunkan.
*****

Orang-orang berjas, berdasi, berperut buncit dan mulutnya dijejali cerutu hilir mudik. Kota dilanda kepanikan. Jalan menuju tanah kosong telah diblokir. Patroli digalakkan. Tentara tak henti berjaga. 

“KARENA DIANGGAP TELAH MERESAHKAN WARGA dan DEMI KETENANGAN DAN KETERTIBAN KOTA. MAKA SAYA UMUMKEN SIAPAPUN YANG MEMBUAT PESTA ATAU KEGADUHAN DAN SEJENISNYA PADA PURNAMA BULAN DEPAN DAN SELANJUTNYA AKAN MENDAPAT SANKSI YANG BERAT. GANJARANNYA PENJARA SEUMUR HIDUP ATAU DITEMBAK. PERATURAN INI TIDAK PADANG BULU DAN BERLAKU TANPA BATAS WAKTU...” ujar Walikota melalui beberapa saluran radio dan televisi.

Congkak kini para penjaga mencibir kami. Lalu hari-hari berjalan seperti sebelumnya, tanpa kejutan. Mereka puas ketika melihat tak ada yang mempedulikan tanah kosong dan perayaan purnama. Yang jingkrak-jingkrak, berteriak-teriak hum-ham-hum hola-hola-hola seperti dipasung dalam kamarnya. Mendekati purnama, penjagaan kembali diperketat.  
Walikota melarang ada pesta setiap purnama. Angin menderu-deru memanggil pada sebuah Desember yang basah. Bisikan angin berhenti di depan pagar kawat berduri dan orang-orang bersenjata. Walikota dan kroni-kroninya tersenyum puas sebab upaya untuk menggagalkan pesta purnama berakhir sempurna.
Pada purnama selanjutnya tak ada tarian, tak ada musik yang menghentak-hentak, tak ada orang menyemburkan api. Tak ada apa-apa di tanah kosong itu. Tentara mendirikan tenda-tenda. Tanah kosong itu kini jadi tempat latihan mereka. Kami tersentak. Angin dan pohon-pohon menari sambil berteriak, hum-ham-hum hola-hola. 
Menjelang purnama yang entah ke berapa, langit tiba-tiba mendung. Pintu kamar  terkunci. Seperti ada bisikan.
Hum-ham-hum, hola-hola-hola.
Hola-hola hum-hum
Hola-hola hum-hum
Hoooolaaaaa….
Pelan tapi pasti, kamar-kamar lain ikut bersuara. Lampu-lampu yang semula padam menyala. Gemuruh hum-ham-hum, hola-hola-hola seolah mengurung kota. Anjing  melolong bersahutan di kejauhan. Orang-orang suruhan walikota membuka pintu mencari asal suara. Tapi tak ada apa-apa. Jalanan tetap lengang. Lalu ketika mereka menutup pintu, kembali suara gemuruh itu terdengar. Seperti derap ribuan pasukan kegelapan. Orang-orang mulai diteror kengerian. Tiba-tiba hum-ham-hum hola-hola-hola memenuhi kota. Sebuah ajakan untuk menari dan berteriak sepuasnya.
Kamar-kamar yang meneriakkan hum-ham-hola-hola-hola masih terkunci rapat.  Tak ada tanda-tanda penghuninya mau keluar meski purnama nyaris sempurna. Tetapi suara-suara makin menggila. 
Siangnya orang kasak-kusuk. Bisik-bisik. Banyak orang khawatir. Wajah-wajah kecemasan terpancar sepanjang jalan dan gedung-gedung bertingkat. Sementara kamar-kamar kami masih terkunci. Kami tertawa karena masih bisa berhubungan dengan siapa saja di mana saja. Tak ada batas. Sambil terus berteriak, hum-ham-hum hola-hola.  Rumah-rumah yang semula merupa penjara kini bergairah kembali.      
“Ayahku kemana? Apa ibu arisan lagi? Adik-adik, ah tak tahulah, barangkali saja sedang menghisap ganja...”
“Aku mau main sepakbola...”
“Kenapa semua lagu bertema seks dan cinta?! Kami kelaparan!”
Hum-ham-hum hola-hola-hola.
“Ayo, kita bunuh diri saja.”
“Males ah, ibuku baru selingkuh.”
“Habis bapakmu meniduri pembantu.”
“Biarin aja. Aku lapar!”
“Eh namamu siapa?”
“Jadi dari tadi kamu ngobrol dengan siapa?”
Hum-ham-hum hola-hola-hola diteriakkan. Semakin lama semakin keras. Banyak orang terganggu. Telinga mereka mengeluarkan darah. Tapi teriakan harus didengungkan, sekeras mungkin sesering mungkin. Orang-orang mulai mencari korek api dan bensin, hendak membakar kamar-kamar yang mendengungkan mantera.  Kamar-kamar tetap terkunci rapat. Semua menari di kamarnya meski kaki mereka dirantai. Orang-orang dengan mata memerah saga mendatangi kamar-kamar anaknya yang meneriakkan hum-ham-hum hola-hola. 
Segera disiramnya pintu kamar dengan bensin lalu dalam rentang hampir bersamaan mereka menyulutnya. Kini api berkobar di mana-mana. Kota ini berwarna merah.  Malam tiba-tiba terang benderang sebab hampir semua rumah terbakar. Semua orang terkejut dengan apa yang baru mereka lakukan. Beberapa bintang yang melekat di langit berjatuhan. Orang-orang berlarian keluar rumah menyelamatkan diri, membiarkan kami gosong dimakan api. 
Hum-ham-hum hola-hola-hola. Semakin keras. Dan teriakan kami akhirnya selesai. 
Pagi. Kota penuh puing-puing hitam. Sepertinya tak akan pernah terdengar teriakan kami, mantera kami, tapi kami sudah tidak peduli.
*****

Mungkin orang-orang itu akan mengingat kami. Mungkin juga tidak. Kami yang tersesat pada kenangan dan harapan yang ditiupkan Tan Malaka. Tetapi dari sebuah tenda tentara yang membangun perkemahan di tanah kosong, hum-ham-hum hola-hola-hola bergema. Lantas dikuti mereka. Banyak yang panik tak bisa menghentikan mulut mereka yang terus mengucapkan mantera hum-ham-hum hola-hola-hola.
Kami menari dan ikut berteriak. 
Hum-ham-hum hola-hola-hola.
Lantas hujan turun amat deras. Tubuh kami yang kemarin malam jadi abu bangkit kembali, lalu terbang. Bergentayangan.
Selamat tinggal semua.
Kami akan terus berteriak setelah di neraka.
Hum-ham-hum, hola-hola-hola.


Bandarlampung, 15 juli 09

0 comments: