Maya

Senin, September 26, 2011 Alexander GB 0 Comments


Maya sering melukai dirinya sendiri; menggores tangan dengan sebilah pisau, silet, atau penggaris besi, hingga darah mengucur membasahi lantai. Bagi Maya setiap waktu adalah malam.
"Aku bosan hidup," desah Maya.
"Ya, kamu memang pantas mati," kataku.
Maya tersentak.
"Aku pergi, lakukan yang kamu mau. Lagi pula tidak ada orang yang peduli dengan nasibmu. Orang tuamu mungkin senang beban hidupnya berkurang. Dan perlu kau ingat kehilangan satu orang sepertimu kurasa tidak mempengaruhi apa-apa bagi kehidupan," ujarku.
Kabut meninggalkan embun di jendela, dinding kamar gemeretak menahan dingin cuaca. Selarik cahaya tiba-tiba masuk dari jantung kegelapan menyeret Maya ke alam yang tidak menyediakan apa pun kecuali kesedihan. Maya merasa seperti botol-botol plastik yang tercecer di jalanan. Rosario masih lekat di lehernya.
"Tidak. Aku tidak boleh mati sekarang," kata dia.
"Mengapa, kamu takut?" kataku.
Diam.
"Maya, kamu adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalanmu sendiri. Kamu selalu bilang semua orang membencimu, tak ada yang peduli, suka mengancam, mengekang, mengacuhkan dan melecehkanmu. Kematian lebih baik untukmu. Kamu sendiri."
"Diam," katanya.
"Kenapa Maya?" kataku.
Diam.
"Apakah orang-orang tak ada yang mempedulikanku?" keluhnya.
"Sudah kubilang."
"Tidak adakah sedikit cahaya untukku?"
Diam.
"Kamu tak pernah bahagia bukan?" tanyaku.
"Ya."
"Seumur hidupmu, kamu tak pernah merasa senang bukan?"
"Ya."
Diam.
Maya terpaku. Aku tersenyum melihat Maya yang terusik kesunyiannya. Maya berontak dari kesedihan yang nyaris menenggelamkan, langit abu-abu. Ia mendengar suara-suara yang datang dari 8 penjuru angin. Puluhan klakson dan deru kendaraan seperti mengepung telinganya.
Di tempat lain udara penuh kembang api, bunyi terompet, gelak tawa dan susunan rencana. Malam ini pesta menyebar dari jalan-jalan protokol hingga ke gang-gang. Sementara Maya membiarkan diri membeku di kamar, menikmati malam hanya dengan buku harian, sebuah boneka dan siaran televisi dari ruang tamu yang sesekali terdengar.
Aku masih ingat, dua puluh tahun sudah waktu kami habiskan bersama, sekadar bercerita; tentang sekolah, hobi, taman bunga, sungai, tokoh-tokoh dongeng, televisi, eksistensi, gelap, kota, dunia yang hilang, kipas angin, halte dan lain sebagainya, atau sesekali duduk di taman, memandangi kendaraan yang melintas juga orang-orang yang bergegas. Aku menatap langit tak berbintang, Maya lihat bayang hitam pohonan.
Aku dan Maya sangat suka bercerita. Kisah-kisah kami seperti suara gemerisik daun-daun bambu, atau suara derit pintu dan jendela. Maya suka akhir yang tak bahagia, sementara aku sebaliknya.
Kemarin ia berbincang tentang sekumpulan awan hitam, desis ular, lolongan anjing atau burung gagak yang kerap bertengger di wuwungan; tentang Tuhan yang semakin terdengar samar.
"Mengapa diam?" tanyaku.
"Apa?"
"Mengapa diam?" tanyaku.
"Mungkin bunga-bunga bermekaran."
"Tidak untukmu."
Diam.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
Diam.
Ia gelengkan kepala. Angin sepoi menerbangkan sehelai kapas ke langit-langit kamar. Kapas itu keluar dari sela jendela, terbang ke angkasa. Kata-kataku membuat membuat Maya merasakan kesedihan dan kebahagiaan yang datang bersamaan. Mungkin kebahagian berarti bahwa kami masih bersama. Tetapi mungkin kebahagiaan juga bisa berarti bahwa telah lama kami saling tak memahami.
"Apakah kamu masih menginginkan kematian?" tanyaku tiba-tiba.
Maya terkejut. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya, kepala berdenyut-denyut, dan matanya merah merupa serigala yang sudah satu bulan tidak bertemu mangsa. Sesaat, tubuh Maya bergetar, dengus napasnya seperti kerbau memendam birahi. Maya mencoba mengendalikan diri, tapi malah semakin tersiksa. Maya berjalan bolak balik, merobek-robek kertas atau catatan harian, debu-debu berlompatan memenuhi udara, marahnya kian menjadi. Tubuhnya gemetar, dadanya sesak, ribuan jarum seperti menusuk-nusuk jantungnya. Ia ingin bunuh diri tetapi segera diurungkan. Ia lemparkan pisau yang tiba-tiba sudah digenggamnya.
Pisau itu terus memanggil. Maya menutup telinga rapat-rapat. Sekilas ia melihat diriku yang tersenyum di sampingnya. Rasa takut berubah menjadi marah. Ia menatapku dengan garang, dan segera bangkit laiknya harimau kelaparan, menerkamku. Ia berusaha melumat dan merobek tubuhku. Kami berjibaku, saling tidih dan menyarangkan pukulan. Aku terjatuh. Ia raih leherku. Aku berontak. Maya semakin kalap, cengkeramannya semakin kuat.
"Lepaskan aku!"
"Tidak."
"Lepaskan!"
"Tidak."
Aku meronta. Maya semakin kesetanan.
Saat ini, dalam benak Maya aku adalah sumber kemalangan. Sehingga semakin aku meronta, semakin kuat cengkeraman di leherku. Napasku tersengal-sengal, pipiku merah menggelembung.
"Kamu yang pantas mati," katanya.
"Maya, lepaskan!" pintaku.
"Sudah kubilang tidak, kamu harus mati, kamu harus mati!" teriaknya geram.
Tanganku menggapai-gapai udara, mataku memutih salju.
"Maya, lepaskan!" suaraku kian lemah.
Sendi-sendi kaki dan tanganku seperti terlepas dari tempurungnya, gerakanku kian lemah, terus melemah. Sebentar aku mengejang, lalu gelap. Waktu berhenti. Hanya derit jendela menggema. Maya menatap tubuhku yang tak lagi bernapas.
Akhirnya Maya puas tetapi lelah. Seperti baru usai menaiki puluhan gunung dan menuruni puluhan lembah. Napasnya masih terengah, tubuhnya masih basah.
Perlahan ia rebahkan tubuhnya di lantai, di samping tubuhku yang terkulai. Lalu senyap, malam memadat.

***

"Maya bangun, sudah siang." Suara wanita dari balik pintu kamar, mungkin ibunya.
Maya segera bangun, meski matanya masih enggan terbuka. Tampak bantal, guling, selimut, seprai, boneka, buku, kertas-kertas tercecer di lantai, juga jendela yang semalam ia biarkan terbuka.
Angin berembus, sehelai kertas tiba-tiba melompati jendela, jatuh ke tangganya.
Maya, semalam kamu membunuhku. Aku tak marah. Mungkin ada benarnya kamu membunuhku. Tetapi Maya, ada seribu aku di dirimu. Aku akan datang lagi.
Maya, lihatlah keluar; bunga-bunga bermekaran.
Salam,
Sahabat dan kekasih abadimu.
Maya menatap jendela, melihat aku tersenyum di halaman.

***


Bandar Lampung, Januari 2009

0 comments: