Tomo

Senin, Agustus 12, 2013 Alexander GB 0 Comments


Tomo tak banyak bicara semenjak hutan Waru hampir habis dibabat penduduk desa. Dia tak bisa melarang dan tak bisa protes.  Satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan adalah mogok makan.

Beberapa minggu setelah penduduk desa ramai membuka lahan di hutan Waru,  tubuh Tomo mendadak panas,  wajah pucat,  dan tetap tak mau makan. Kontan orangtuanya bingung.  Semua cara telah dilakukan agar Tomo segera pulih seperti semula.  Mereka membawanya ke puskesmas, merebus beberapa jenis tumbuhan obat hingga mendatangkan dukun dari Desa Gunung Sari untuk mengusir setan yang diduga merasuki Tomo.

Mbah Ngatino mengatakan Tomo positif ketempelan penunggu hutan Waru.  Kalau mau sembuh,  semua orang harus mematuhi yang dikehendaki roh penunggu hutan tersebut. Ini sebuah peringatan bagi seluruh penduduk desa dan siapa yang melanggarnya akan mendapat balasan yang setimpal.  Tomo senang mendengar penjelasan Mbah Ngatino; maka ia pun dengan kepura-puraan yang sempurna melarang penduduk desa berhenti menggarap hutan Waru.  Beberapa tetangga dengan sembunyi-sembunyi ngedumel,  termasuk bapak Tomo sendiri.

Bagaimana tidak,  kebutuhan semakin membengkak.  Jika hanya mengandalkan kebun mereka yang lama,  tentu tak mencukupi lagi agar dapur bisa ngepul setiap hari,  apalagi jumlah keluarga terus bertambah tak terkendali sebab program KB gagal oleh cuaca dingin dan mahalnya biaya kontrasepsi.  “Kita ini kan terpaksa.  Masa danyang hutan Waru nggak bisa ngerti nasib kita juga,  ya?” ujar salah satu penduduk yang kadung menyebar benih jagung dengan takut-takut.

“Iya,  ini kan satu-satunya harapan kita untuk bertahan hidup,  tempat lain sudah kadung menjadi milik Pak Warso dan kroni-kroninya, ” ujar pak Teguh menyela.  “Tomo,  Tomo!” desah yang lain menambah keruh suasana.  Sementara Tomo membelalakkan mata Aktingnya sungguh-sungguh meyakinkan Ia berteriak,  berbicara dengan suara serak dan berat.  Gerakangerakan liar menyertai teriakannya.  Mbah Ngatino segera turun tangan. Ia minum segelas air putih,  kemudian disemprotkan air itu ke wajah Tomo.

Semprotan pertama Tomo tetap bergerak dan berbicara tak terkendali.  Meski Tomo baru berusia 12 tahun tetapi badan dan tenaga amatlah besar,  dua kali lipat dari anak-anak seusianya,  sehingga wajar jika beberapa tetangga yang sedari tadi memegangi tangan dan kaki Tomo, terpelanting ke sana-sini. Semua panik. Mbah Ngatino menambah panjang jampi-jampi kemudian untuk ke dua dan tiga kalinya ia menyemburkan air ke wajah Tomo.  Tomo kelelahan.

Sementara orangorang bersepakat untuk sementara menghentikan seluruh aktivitas yang menyangkut hutan Waru demi kesembuhan Tomo,  dan ketakutan jika hidupnya tak selamat diganggu roh jahat. Mbah Ngatino yang merasa berhasil tak mampu menyembunyikan senyum kemenangan,  ia segera berpamitan melihat Tomo yang semakin terkendali. Sejak itu kondisi Tomo pun perlahan membaik,  penduduk semakin percaya bahwa roh penunggu hutan Waru sedang memberi peringatan.  Hutan Waru bagi Tomo dan beberapa anak desa adalah rumah kedua mereka.

Di sini mereka biasa bermain perang-perangan,  berburu kucing hutan,  tupai,  atau musang disela kewajiban mencari kayu bakar.  Selama ini,  tak satu pun orangtua yang melarang anak-anak mereka masuk dan bermain di hutan Waru yang bersebelahan dengan Alas Randu yang terkenal angker dan sering menyesatkan orang.  Seminggu setelah kejadian Tomo kembali mengigau,  api menghanguskan hutan Waru.  Dalam mimpinya,  seluruh warga terjebak api dan tak mampu keluar,  hingga semua orang gosong terbakar.  Ia berjalan hilir mudik tak jelas arahnya.

Sebentar berjalan,  duduk, berjalan lagi tak berani ia merebahkan tubuh kembali. Akhirnya ayam berkokok dan pagi pun datang.  Hari itu Tomo dan beberapa anak lainnya menuju hutan Waru setelah pulang sekolah segera tanpa ke rumah dulu.  Mereka tak mampu menahan rindu untuk main perang-perangan.  Sudah seminggu dikekang orang tua yang tak mengizinkan mereka mengunjungi hutan Waru.

Beberapa orang mulai melupakan kejadian yang menimpa Tomo tempo hari,  termasuk Pak Darmo yang sore itu berniat membakar lahan yang sudah tiga minggu dibiarkannya.  Api menyala dengan ganas.  Hampir pukul 5 sore, anak-anak itu tak kunjung pulang. Beberapa orangtua tak mampu menyimpan gelisahnya.  Sementara mereka dengan riang,  menyelinap di antara pohon-pohon besar,  seikat kayu di punggung,  layaknya tentara yang membawa perbekalan perang.  “Iwan payah,  ah,  sembrono? Kita kalah jadinya, ”ujar Yono.

“Eh,  enak saja. Kamu yang payah.  Kamu nggak bisa kerja sama.  Malas aku satu kelompok dengan kamu, ” ujar Iwan tak kalah sengit.  “Eh,  sudah-sudah.  Jangan berantem.  Kelompoknya kita bagi lagi. ” “Ayo…” ujar yang lain bersemangat.  Mereka mulai membagi jumlah personel.  Seperti tentara sungguhan mereka bertiarap, mengendap sambil mengacungkan senapan yang terbuat dari pelepah pisang sesuai dengan jenis senapan yang mereka kagumi.  Lantas,  terdengar suara dar,  der,  dor,  dari mulut mereka bersahutan.

“Awas tiarap, ada bom…, ”ujar mereka menirukan salah satu adegan perang yang pernah mereka tonton di televisi.  “Qomar, awas…, ” ujar Tomo mengingatkan pasukannya.  “Wah,  kalian curang…, ” ujar Iwan merasa dikerjai kawan-kawannya.  Permainan semakin seru,  semakin sore, api mendekat ke tempat mereka.  Temon, anjing Tomo, tampak khawatir.  Ia mencium bau bahaya mendekat.  Ia kibas-kibaskan ekornya menyalak ke sana-sini.  Anak-anak itu mengacuhkan gonggongan.

Temon sendirian keluar dari hutan. Suara letupan bambu yang pecah terbakar terdengar di sana-sini.  “Eh,  ada kucing hutan,  ayo kita buru, ” ujar Panjul pada temannya yang masih asyik main perangperangan.  “Mana?” ujar yang lain hampir bersamaan dan saling menyembulkan diri dari tempat persembunyian mereka.  Panjul menunjuk kucing hutan itu.  Serempak mata mereka mengikuti arah yang ditunjuk Panjul.

“Ayo kita buru, ”ujar Tomo. Kucing hutan itu berlari lincah.  Melompat dari pohon ke pohon. Tomo dan kawan-kawan bersemangat mengejar kucing hutan, berlari, sambil mencoba mengepungnya,  mereka melewati batas hutan Waru yang ditumbuhi randu alas.  Mereka tak tahu Alas Randu sudah terkepung api,  telah penuh asap. Tomo dan teman-temannya kebingungan.  Mereka tidak arah mana jika hendak keluar hutan, semua tampak sama.  Sementara asap semakin tebal dan menghalangi pandangan,  sebagian sudah terbatuk-batuk dan sesak napas.

Temon melihat rombongan orang desa.  Pak Darmo segera menyambutnya.  Temon ingin memberi tahu di mana Tomo dan kawan-kawan berada.  Tetapi ia hanya bisa menggonggong.  Dan gonggongannya tentu saja tidak dimengerti.  Temon kemudian menarik celana Pak Darmo ke arah di mana Tomo berada.  Pak Darmo mulai memahami pesan yang dibawa Temon,  Alas Randu.  Namun,  api semakin besar bukan saja telah menghanguskan hutan Waru,  kini sudah menjilati Alas Randu tempat Tomo dan kawankawannya kebingungan dan melihat api yang mendekat hendak menelan mereka.  Orang-orang desa panik.

Api terus mendekat ke arah Tomo dan kawankawannya.  Asap hitam mengepul semakin pekat. Suara gemeretak bambu terbakar dan pohon yang tumbang terdengar membahana.  Sekilas dan samar salah seorang melihat bayangan anak-anak yang berlari di antara nyala api.  Mereka segera berteriak memanggil-manggil.  Anak-anak itu terhalang api yang semakin liar melumat benda-benda di sekitarnya.  Jelas di telinga mereka suara anakanak yang ketakutan,  menjerit-jerit minta tolong.

Darmo sempat melihat bayangan Tomo.  Ia hendak menjemput Tomo tapi penduduk yang lain segera mencegahnya sebab api terlalu besar dan tidak memungkinkan siapa pun kecuali hendak bunuh diri.  Api menari-nari.  Alas Randu kini terang benderang,  sebagian orang berteriakteriak,  tanpa suara.  Hanya mulutmulut mereka yang terbuka. Sebagian penduduk berteriak, meratap, meronta,  penduduk lainnya menahan yang histeria.  Asap hitam membungkus udara perbukitan.  Perempuan-perempuan meratap dan menangis kehilangan anaknya, sebagian yang lolos langsung masuk ke Alas Randu di mana anakanak mereka berada.

Api terus berkobar.  Terdengar gemeretak kayu dan tulang yang terbakar.  Anak-anak dan wanita yang ada di Alas Randu lenyap.  Penduduk desa hanya bisa memandang tak berdaya.  Kemudian tinggal suara nyala gemeretak api melahap yang tersisa.  Pukul tiga pagi,  sebagian orang pulang dan mengunci pintu.  Lantas tertidur bersama mimpi buruk yang baru saja mereka alami.

Darmo dan beberapa penduduk lain masih bertahan memandangi api yang akhirnya surut,  tinggallah tonggak kayu berwarna hitam,  asap masih mengepul,  sementara hujan deras setelah hampir 10 bulan alpa tiba-tiba menjenguk desa yang hutannya baru terbakar.  Malam selanjutnya Darmo merebahkan tubuh sendirian.  Tanpa anak dan istri.  Ia bangkit dan membuka jendela,  menatap hitam hutan,  mengenang Tomo dan Samiyem yang kemarin malam terpanggang.

Pukul 00. 15,  anjing-anjing melolong bersahutan.  Menyusul terdengar suara anak-anak bermain perang-perangan meski samar.  Darmo terdiam.  Suara-suara itu semakin mendekat,  Darmo kian merasa bersalah.  Hatinya tercabik-cabik nasib malang yang baru saja menimpa.  Penduduk desa keluar mendengar Darmo meraung- raung memanggil-manggil anak dan istrinya.  Orang-orang menundukkan kepala.  Lantas semua tersentak ketika suara Tomo begitu jelas mampir ke telinga mereka.  Semua bulu kuduk merinding.  Jantung mereka berhenti berdetak.

“Pak,  hutan Tomo habis terbakar…. . ” suara Tomo lirih.  Senyap mengurung desa. Darmo terus memanggil-manggil anak dan istrinya.  Tomo anak yang baik.  Selama ini ia selalu mematuhi apa yang dikatakan bapaknya.  Ia pintar dan ramah.  Rambutnya ikal,  suka senyum dan disenangi banyak orang.  Darmo sangat menyayangi Tomo,  semua yang ia lakukan demi kebaikan hidup Tomo. Ia ingin Tomo sekolah tinggi,  bisa bermanfaat bagi keluarga dan desanya.  Tomo adalah satu-satunya harapan.

Masih jelas dalam ingatan Darmo,  12 tahun silam,  saat ia mencari kayu bakar di hutan Waru, tiba-tiba ia melihat seorang bayi tergeletak kedinginan. Ia heran,  anak sekecil itu sendirian di tengah hutan.  Mungkin sengaja dibuang orangtua yang tak menghendaki anak itu lahir ke dunia.  Bayi itu sangat lucu.  Ia sangat senang,  sangat bahagia sebab sudah lebih 10 tahun menikahi Samiyem,  dan kiranya Tuhan tak kunjung memberi keturunan.  Bayi mungil itu kemudian mereka beri nama Tomo.  Kini bersama terbakarnya Alas Randu dan hutan Waru,  Tomo pun ikut menghilang.  Darmo kesal,  dan hanya bisa meratapi nasib malangnya.

Sementara orang-orang saling bertukar pandang,  kepala mereka tertunduk,  tanda mengalami juga kesedihan yang mendalam.  Sejak itu,  banyak malam di desa tempat Tomo tinggal dihiasi suara anak-anak yang sedang main perang-perangan,  atau yang melolong kesakitan.  Paginya sekitar pukul 08. 30 WIB,  sayup terdengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan.  Para pelajar khusyuk berbaris di lapangan memperingati hari kemerdekaan.  Mata mereka masih sembab, raut sedih dan ketakutan jelas terpancar di wajah mereka.

Menjelang lagu itu habis dinyanyikan,  tiba-tiba udara menjadi dingin.  Kabut dengan cepat turun.  Lamat-lamat terdengar suara erangan minta tolong.  Semua terdiam.  Erangan itu semakin jelas.  Mereka kian terpaku,  kaki memberat,  tak mampu digerakkan.  Guru,  siswa,  dan penjaga sekolah berpandangan. Kabut perlahan sirna.  “Hiduplah Indonesia Raya…. ” Suara paduan suara itu akhirnya memecah kebekuan, menyelesaikan lagu yang sesaat tertunda. ***

Februari 2009
Cerpen Iskandar GB
Dimuat di Seputar Indonesia 03/15/2009

0 comments: