Ketegangan antara Teks dan Keaktoran

Jumat, Desember 21, 2012 Alexander GB 0 Comments

Meskipun bukan hal baru, tetap saja timbul "rasa asing" menyaksikan pembacaan naskah drama (dramatic reading). Ini terjadi karena ketegangan antara teks dan keaktoran.

LAKON RUANG PUTIH. Pembacaan lakon Ruang Putih karya Rangga Riantiarno oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) dalam rangkaian Festival Pembacaan Naskah Lakon 2012 di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Kamis (8-11). FOTO: ISTIMEWA 

SELAMA dua hari, penonton menyaksikan pembacaan naskah lakon Perempuan dari Masa Lalu karya Roland Schimmelpfennig (Jerman) oleh Teater Gidag-Gidig (Solo) dalam dua kali kesempatan tampil, 8 dan 9 November; lalu Ruang Putih karya Rangga Riantiarno oleh Komunitas Komunitas Berkat Yakin (Kober), Kamis (8-11), dan Keluarga-Keluarga Bahagia karya Ann Lee (Malaysia) oleh Teater Satu.

Sebelum di Bandar Lampung, rangkaian Indonesia Dramatic Reading Festival(IDRF) 2012 atau Festival Pembacaan Naskah Lakon 2012 diadakan di Yogyakarta (22?24 Oktober), Semarang (30?31 Oktober), dan Bandung (5?6 November).

Bagi Bandar Lampung, IDRF ini yang pertama kali. IDRF pertama diadakan 2010 di Jakarta dan Yogyakarta. IDRF kedua 2011 dilaksanakan di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

IDRF 2012 ini mengusung tema Memperkarakan realisme. Sebelumnya, pada 2010 dan 2011, secara beruntun IDRF mengangkat tema Melihat kembali drama realis Indonesia dan Mengolah kembali realisme.

Naskah Ruang Putih yang dibacakan Kober menceritakan Wana dan keempat rekannya yang mendadak berada di ruang serbaputih. Menurut Wana, cara untuk mengingat kejadian sebelumnya adalah dengan melakukan rekonstruksi lagi. Namun, mereka bersitegang satu sama lain dengan pendapat Wana itu. Namun, semua ketegangan itu tetap bermuara kepada bagaimana menyibak misteri ruang putih tersebut.

Perempuan dari Masa Lalu yang dibacakan Teater Gidag-Gidig mengisahkan seorang perempuan yang datang tiba-tiba dalam kehidupan keluarga Frank. Perempuan itu, Romy Vogtlander, datang untuk menagih janji Frank yang pernah diucapkannya 24 tahun silam kala mereka tengah dimabuk cinta bersama.

Frank yang telah memiliki istri dan anak tunggal itu pun kaget bukan kepalang. Perempuan itu meminta Frank untuk meninggalkan semua hal yang telah dimilikinya, termasuk keluarga Frank.

Sedangkan Keluarga-Keluarga Bahagia yang dibawakan Teater Satu mengisahkan drama keluarga yang ceria dan unik. Ceritanya begitu mengalir dan segar karena memang yang ditonjolkan ialah keceriaan empat remaja putri yang khas dalam sebuah keluarga.

Teks Vs Keaktoran

Dalam diskusi seusai pembacaan naskah lakon, Kamis (8-11), mencuat tentang ketegangan antara teks dan keaktoran. Bagaimana menempatkan teks yang dibacakan itu. Apakah pembaca naskah lakon yang mendominasi teks? Atau sebaliknya tekslah yang mendominasi para pembaca naskah lakon? Semua itu menjadi pijakan awal untuk menginterpretasikan masing-masing naskah lakon.

Gunawan Maryanto, penyair, cerpenis, sekaligus penata program IDRF ini, mengatakan superioritas teks menjadi tak terelakkan pada momen seperti IDRF. "Teks menjadi begitu superior karena pembaca naskah tinggal membacakan sesuai apa yang diinginkan oleh teks," kata Gunawan Maryanto yang akrab disapa dengan Mas Cindil.

Namun, Pemimpin Umum Teater Satu Iswadi Pratama melihat tetap saja diperlukan peran keaktoran dalam pembacaan naskah drama. "Pemilihan pakaian, pengaturan suara, intonasi, dan cepat-lambat, dan lain-lain adalah bagian dari keaktoran. Naskah yang baik bisa menjadi jelek kalau pembacaannya buruk," kata dia.

Hanya saja, Iswadi mewanti-wanti agar pembacaan naskah lakon berubah menjadi menjadi pementasan teater. Sebab, pada intinya pembacaan naskah lakon ini ingin menyanyikan kekuatan teks pada penonton. Karena itu, sebisa teks tampil alami ke pendengaran penonton.

Memberikan Harapan

Salah seorang penonton yang bergelut dalam teater menyarankan agar perhelatan semacam IDRF ini tidak berhenti hanya sampai pada saat perhelatan digelar saja. Program yang telah dirintis IDRF ini bisa juga disosialisasikan di sekolah dan kampus.

Direktur IDRF Joned Suryatmoko mengatakan daerah Lampung merupakan medan subur bagi para penulis naskah lakon baru. "Lampung adalah medan persemaian yang subur untuk mempromosikan naskah-naskah lakon yang baru," kata Joned.

Menurut dia, saat ini IDRF juga masih dalam proses menemukan format yang tepat untuk pelaksanaan IDRF 2013 nantinya. "Sejak 2010-2012 kami masih belum menemukan format yang tepat itu seperti apa. Semuanya masih dievaluasi kembali," ujar Joned.

Sedang Iswadi Pratama menilai konsep IDRF ini adalah sesuatu yang menyegarkan dan memberi harapan bagi para pekerja teater di Lampung untuk tetap optimistis meskipun dana terbatas.

"Untuk sebuah produksi teater, ternyata tak selalu mesti dengan biaya yang besar. Konsep dramatik ini adalah contoh bagaimana dengan modal yang sangat minim teater akan tetap bisa berjalan dan menjadi tontonan yang bagus," ujar Iswadi.

Oleh sebab itu, Iswadi berharap para pekerja teater di Lampung bisa menciptakan ruang-ruang seperti IDRF ini. "Para pekerja teater di Lampung harus selalu optimistis dalam membuka ruang-ruang silaturahmi seperti ini," kata Iswadi. (WANDI BARBOY/P) 


Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 November 2012

0 comments: