Profile Komunitas Berkat Yakin

Minggu, Februari 10, 2013 Alexander GB 0 Comments


Biografi
Pada 26 Mei 2002, sekelompok seniman yang dimotori Ari Pahala Hutabarat, mendeklarasikan berdirinya komunitas teater independen di Lampung.  Komunitas itu bernama Kelompok Sandiwara Berkat Yakin. Tapi pada 2004, diubah menjadi KOMUNITAS BERKAT YAKIN, disingkat KOBER. Kegiatan perdananya, pementasan Nyanyian Angsa karya Anton Chekov dengan sutradara Iswadi Pratama. Tempat pementasan, halaman markas Aliansi Jurnalisme Independen  Lampung. Pentas itu merupakan kelanjutan studi realisme yang digagas Ari Pahala dan para alumnus Teater Kurusetra.

Usai pementasan Nyanyian Angsa, Kober bekerjasama dengan Teater Satu menggelar Festival Anton Chekov. Empat lakon Chekov digelar bersama di Taman Budaya Lampung, selama tiga hari, 2002.  Nyanyian Angsa disutradarai Iswadi Pratama, Kisah Cinta Hari Rabu disutradarai Ari Pahala Hutabarat, Pinangan digarap Imas Sobariah, dan Penagih Hutang digarap Ahmad Jusmar.

Ari Pahala, Direktur Artistik sekaligus guru spiritual di Kober. Tapi tak semua produksi Kober dia sutradarai. Komunitas ini muncul untuk merespons kegelisahan sejumlah alumnus UKMBS Unila yang tetap ingin berkesenian. Ari  sadar Teater Kurusetra sudah tak mampu lagi menampung obsesi artistiknya.

Akhir 2004, Ari merumuskan kembali visi dan misi termasuk ruang lingkupnya. Kober kemudian dipahami sebagai sebuah komunitas kebudayaan independen. Pemakaian kata komunitas didasarkan pada sifatnya yang dianggap lebih intim sekaligus lebih terbuka. Dan label sandiwara dihapus karena Kober membuka ruang bagi disiplin seni lain yang ingin terlibat.

Jadi, Kober bisa dipahami sebagai ruang silaturahmi yang mempertemukan seni dan pemikiran. Kober diharapkan mampu memasuki arena pergulatan dan pergaulan kesenian, tradisi atau modern, dengan teater sebagai basis utamanya. Kober memandang, sekat-sekat yang membatasi antara seni dan non-seni;  antara teater dan senirupa, musik, tari, arsitektur, antara seni dan ritual, politik, ekonomi, mutlak dihapus, paling tidak pada tataran gagasan. Oleh karenanya komunitas ini didesain agar bisa menjadi standar penciptaan teater di Lampung dan Sumatera.

Visi Kober dirumuskan sebagai komunitas kebudayaan profesional yang berbasis seni, pembelajaran, dan kesadaran dengan berorientasi pada kualitas penciptaan dan solidaritas kemanusiaan. Bentuk-bentuk kegiatan atau programnya haruslah selaras dengan visi tersebut.

Sedang misinya; (1) Menjadikan pengkajian keilmuan yang berorientasi pada peningkatan kesadaran, kualitas penciptaan dengan teater dan sastra sebagai basis utama. (2) Menjadi media alternatif bagi pembelajaran dan peningkatan kesadaran setiap anggota dan publiknya. (3) Mendokumentasikan dan mempublikasikan beragam hasil kajian, kreativitas, dan ekspresi seni tersebut kepada masyarakat. Dan menjadikan setiap aktivitas, peristiwa kesenian, sebagai perayaan bersama, ruang silaturahmi, serta membina integritas diri. Bengkel Teater Rendra, merupakan salah satu model yang hendak ditiru Kober.

Kober selalu mampu menampilkan pementasan yang segar, menggelitik dan seru. Semangat belajar dan penciptaan anggota Kober adalah; berpikir serius, bersikap romantik, bertindak rock’n roll. Pada setiap pementasan Kober, bangku penonton di Taman Budaya selalu penuh. Penontonnya sebagian besar dari kalangan mahasiswa.

Kedekatan Ari pada ajaran agama dan puisi, melahirkan pementasan Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, 2007. Pergelaran ini mengusung gaya realis, surealis, absurd, seni peran, grafis, campurbaur dalam satu pementasan, dipanggungkan serentak, seakan sebuah ensiklopedi gaya pemanggungan teater. Satu adegan menonjolkan karakterisasi tokoh dan peristiwa yang di alaminya, pada adegan lain lebih mengedepankan komposisi, di adegan lain lagi malah menggabungkan keduanya. Minimalis, sublim, dan segar, seperti puisi. Aktor ditempatkan sama dengan set, warna, cahaya, musik. Lalu, semuanya hadir di panggung sebagai komposisi. Banyak kalangan menilai pementasan Wu Wei adalah puisi di panggung teater. Teater puisi. 

Profil
ARI PAHALA HUTABARAT, biasa di panggil Ari, kerap juga dia dipanggil Ucok berdarah Medan dan Lampung. Putra Arman Hutabarat dengan Ringgasui ini, lahir di Palembang, 24 Agustus 1975.

Ari memulai sekolahnya di SDN Mariana, Palembang, hingga kelas 5. Di Palembang, dia mendapat pendidikan agama Islam dari kakeknya yang fanatik. Jika terlambat shalat apalagi sampai meninggalkannya, Sang Kakek tak segan memukul dengan rotan atau ikat pinggang. Sementara itu, dari ayahnya dia dituntun untuk menggemari bacaan dan musik. Setiap minggu dia dibawakan majalah masa itu, dan diajar kenal pemusik dunia seperti John Lenon, Elvis Presley, CCR, GNR, musik gereja, dan musik klasik.

Ari ingat, ketika kecil, ayahnya suka mengajak anak-anak muda tetangganya bermain musik bersama. Dia dekat dengan seni, terutama musik. 

Kemudian, keluarganya pindah ke Lampung, dan Ari melanjutkan sekolah di SDN Terbanggi Agung, Lampung Tengah sampai lulus 1986. Ari sempat duduk di SMP Muhammadiyah 35, Jakarta, hingga kelas 2. Di sini dia belajar bersikap dan bertindak perfect. Setiap pagi harus mengepel lantai hingga mengkilat. Kalau nampak debu, pekerjaan harus diulang kembali. Pendidikan SMP dilanjutkan di SMP Budaya Kemiling dan lulus 1989. Lulus dari SMAN 7 Bandar Lampung, 1992, dia kuliah di Universitas Lampung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lulus tahun 2000.

Sejak SD minat Ari sangat besar pada sastra. Tetapi, dia baru menulis puisi, ketika di SLTA. Dia menyukai karya Sutardji Calzoum Bachri, WS Rendra, Matsuo Basho, Octavio Paz dan Pablo Neruda. Karya-karya Isbedy Stiawan ZS dan Iswadi Pratama dia suka pula. Dan ternyata, dia mengagumi Rumi, Osho, Gourjief, Khrisnamurti, Subud, dan Mbah Prapto.

Kiprah pertama Ari di teater adalah ketika dia diajak bergabung dengan Teater Kurusetra. Kelompok itu bernaung di bawah Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Dia belajar teater secara otodidak, melalui buku, pengalaman pentas, dan menonton pementasan. Dalam berteater, Ari meneladani Putu Wijaya yang menggunakan semangat, ‘Berangkat dari yang ada’. Sebagai sutradara, dia cerewet, tegas, dan tak suka kompromi untuk masalah kualitas.

Sesudah mendirikan Komunitas Berkat Yakin, namanya kian melambung. Ada yang bilang, Ari adalah salah satu sutradara paling berbakat yang dimiliki Lampung. Proses berteater, menurut Ari, merupakan media yang tepat bagi individu untuk meningkatkan kualitas hidup, latihan bagi individu untuk secara intens dan konsisten mengembangkan diri. Kepada aktor-aktornya dia perkenalkan bentuk-bentuk latihan tertentu, misal, wirid.

Ari Pahala menekuni dua bidang, sastra dan teater. Dan kepada dua seni itulah hidupnya didedikasikan. Meski teater jadi prioritas utama, puisi telah menempatkan namanya sebagai salah satu penyair Indonesia modern. Dia suka teater karena banyak orang yang terlibat dan saling bekerjasama untuk mendukung sebuah cita-cita artistik. 

Belakangan ini, pengaruh puisi sangat besar pada karya teaternya. Teater Puisi adalah salah satu impiannya. Puisi dalam teater. Dan itu dia buktikan pada pentas Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, Rumah dan Rashomon, The Song Of Dajang Rindoe.


Iskandar Gebe - Penulis
Nano Riantiarno - Editor




DAFTAR KARYA (PEMENTASAN)


  1. Pementasan "Nyanyian Angsa" karya Anton Pavlovich Chekov sutradara Iswadi Pratama; Teater Halaman Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, 26 Mei -  2 Agustus 2002, Desember 2003, Februari 2004.
  2. "Pinangan" karya Anton Chekov, Sutradara Imas Sobariah Taman Budaya Lampung, 3 Agustus 2002. 
  3. "Kisah Cinta Hari Rabu" karya Anton Chekov, Sutradara Ari Pahala Hutabarat Taman Budaya Lampung, 4 dan 11 Agustus 2002.
  4. "Bunga Rumah Makan"  karya  Utuy Tatang SontaniSutradara Muhammad Yunus.  23 – 26 Januari 2003. 
  1. “Hamlet"  karya  William ShakespeareSutradara Ari Pahala Hutabrat. Gedung,  Teater Tertutup Taman Budaya Lampung 24 – 26 Mei 2003.
  2. "Inspektur Jenderal"  karya  Nikolai GogolSutradara Ari Pahala Hutabarat. dipentaskan di; Taman Budaya Lampung 24 – 26 Maret 2004, 22 – 23 Mei 2004 Mei 2004.  Kota  Metro, 30 Mei 2004.
  3. Roadshow “Lawan Catur” karya Sir Kenneth Sawyer Goodman, sutradara Ari Pahala Hutabarat, Universitas Lampung (4 Februari 2005), Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer  (STMIK) DARMAJAYA (8 Februari 2005), Metro (19 Februari 2005).
  4. Roadshow “The Bandit atau Rashomon” Karya Ryunosuke Akutagawa, sutradara Ari Pahala Hutabarat, Universitas Lampung (28-30 September 2005). Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki Jakarta (7 Oktober 2005), Teater Utan Kayu Jakarta (14 – 15 Oktober 2005).
  5. Roadshow “Pinangan” karya Sir Anton Pavlovich Chekov, sutradara Ari Pahala Hutabarat, Universitas Lampung (November 2006), Festival Seni Cak Durasim 2006-Taman Budaya Surabaya (24 November 2006), SMA Fransiscus (Januari  2007), Pusat Bahasa Jakarta, 22 Oktober 2008.
  6. Pementasan Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, karya/sutradara Ari Pahala Hutabarat, Taman Budaya Lampung, 29 – 30  Juni 2007. 
  7. Roadshow “Rashomon atau The Bandits” karya Ryunosuke Akutagawa, sutradara Ari Pahala Hutabarat, Taman Budaya Lampung 2 – 3 Desember 2007, Taman Budaya Riau (09 Desember 2007), Taman Budaya Sumatera Barat (12 Desember 2007), Taman Budaya Bengkulu (14 Desember 2007).
  8. Misteri Kota Ningi atawa The Invisible Chrismast  karya Seno Gumira Ajidarma sutradara Ari Pahala Hutabarat.  Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta September 2006, Universitas Lampung (2006-2007), Taman Budaya Lampung (Agustus 2007), Apresiasi Teater di Kotabumi Lampung Utara, 23 November 2008.
  9. Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu karya tim Penulis Kober sutradara Ari Pahala Hutabarat di STSI Padang Panjang, Taman Budaya Bengkulu, dan Teater Salihara Jakarta pada tahun 2009, Hibah Seni Yayasan Kelola Jakarta: kategori pementasan keliling.
  10. Kehendak Untuk Menjadi Hening karya Ari Pahala Hutabarat, Juni 2010—Januari 2011 di Gd. PKM Universitas Lampung, Universitas Muhammadiyah Lampung, dan STKIP Muhammadiyah Kotabumi.
  11. Hati Yang Meracau karya Edgar Allan Poe, 2009—2011: Juara II Festival Monolog Dewan Kesenian Lampung 2009 di Taman Budaya Lampung, Gd. PKM Universitas Lampung, Universitas Muhammadiyah Metro, STAIN Metro.
  12. Bara di Hamparan Salju karya Osman Saadi, 2009—2011: Taman Budaya Lampung, Gd. PKM Unila, FKIP Unila, Universitas Mitra Lampung, Universitas Muhammadiyah Metro, STKIP Muhammadiyah Kotabumi, Universitas Muhammadiyah Lampung.
  13. Tua karya Putu Wijaya, 2010—2011: Gd. PKM Universitas Lampung, FKIP Universitas Lampung, Universitas Mitra Lampung, Universitas Muhammadiyah Metro, IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
  14. Merdeka karya Putu Wijaya, 2010—2011: Universitas Muhammadiyah Lampung, STKIP Muhammadiyah Kotabumi. Baradatu Way Kanan. UKMBS PT Teknokrat, SMAN 1 Gading Rejo. SMA Bhimasakti Ulubelu Tanggamus.
  15. Tumbuh karya Ari Pahala Hutabarat,  2010 – 2011, Universitas Bandar Lampung, IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
  16. The Song Of Dajang Rindoe (1st Version) Traveling Back To The Source, karya/sutradara Ari Pahala Hutabarat, disertakan pada Festival Teater Legenda – Kala Sumatera, 27 – 30 Maret 2012.
  17. The Song Of Dajang Rindoe (2st Version) Traveling Back To The Source, karya/sutradara Ari Pahala Hutabarat, Taman Budaya Lampung, 16 -17 Juni 2012. Peraih Hibah Seni Yayasan Kelola 2012 kategori Karya Inovatif.
  18. The Song Of Dajang Rindoe  (4st Version) Traveling Back To The Source, karya/sutradara Ari Pahala Hutabarat, Taman Budaya Lampung, 1 – 2 Desember 2012. Bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.


Alamat

Komunitas Berkat Yakin
Jl. Purnawirawan Gg. Swadaya X (Rmh Bp Nuryadi), Gunung Terang Bandarlampung.  25152. CP : Iskandar GB (081272533337Email: gebe.de.alexander@gmail.com / rosent_crantz@yahoo.com

0 comments: