Membelah
malam sebuah Februari yang dingin dan berangin. Dari Gunungterang ke
Perum Kemiling. Mimpi-mimpi pucat di pinggiran kota kecil yang selalu
gagal mendefinisikan dirinya. Menikmati hembusan angin lembut dan
bintang-bintang yang pelan-pelan redup ditutup awan.
Sepanjang jalan kukenang senyummu, penuh harap sekaligus menyimpan dukacita yang panjang.
"Sudah
lama bunga-bunga di belakang rumah tak kau siram, sudah lama pantai itu
tak kau sapa. Waktu mengajari kita untuk bersabar selama menunggu,
sedang jarak mengajari kita tentang rindu."
Tanjungkarang
terlelap. Dibekap mimpi-mimpi tentang water front city dan jembatan
Selat Sunda. Sementara itu, aku masih berkutat dengan pekerjaan sepele
yang tak kunjung tuntas. Berkali-kali mulutku menguap. Keteguk lagi kopi
yang nyaris dingin. Kepulan asap rokok menjelma bayangmu. Aku menyusun
kembali kisah-kisah muram dan berserakan di kepala. Aku menghimpunnya
dan berharap bisa menjadi cerita pendek atau sebuah puisi indah yang
lekas kukirimkan kepadamu, hingga kamu tak perlu terlalu merasa sendiri.
Pernah
aku berpikir untuk meninggalkanmu. Tanpa air mata. Tanpa pesan apa pun
dari bibir indahmu. Kepalaku menyimpan banyak keraguan. Seperti
kendaraan yang tak henti berlintasan, suara klakson, dan penjual koran
juga. Begitu ramai.
Menjelang pukul satu, kususuri Jalan Panglima
Polim hingga Purnawirawan. Senyummu hadir sepanjang jalan itu. Senyum
badai embun yang memadamkan nyala api di dadaku. Aku menggigil.
Merasakan kegelapan yang begitu pekat. Sesaat terdiam. Tercekat oleh
perasaan yang aneh. Tanpamu, aku merasa seperti anak kecil yang
kehilangan mainannya. Seperti lelaki yang ditinggalkan purnama.
Esoknya
kamu akan menjelma black hold, menyerap setiap unsur dalam diriku. Aku
ingin menghindar tapi selalu gagal. Saat ini, kita seperti mahluk konyol
yang menunggu ditinggalkan atau meninggalkan. Lalu, ada hati yang
merasa kehilangan, yang tak lagi lengkap, atau anggapan-anggapan lain
yang terkadang begitu sulit untuk dimengerti.
Paginya aku
terbangun. Aku mencari-cari kamu. Tak ada siapa-siapa. Daun-daun jambu
berserakan di belakang rumah. Aku merapikan batu-batu di depan pintu,
menganti baterai jam dinding yang sudah dua hari tak lagi berdetak. Ada
beberapa sarang laba-laba di sudut kamar. Ada potretmu tergantung di
situ, tersenyum seolah sedang mengejek kesendirianku.
2. Rumah dan ayah yang tak lagi hijau
Aku
tak tahu jika ayahmu tak lagi berwarna hijau. Ayah semakin jarang
pulang ke rumah. Seperti kamu. Bertahun-tahun tak ada jejakmu di situ.
Ada pigura berwana cokelat melekat di dinding ruang tamu. Seorang wanita
suka sekali memandang begitu lama. Jarum jam mengelak untuk melakukan
ketidakbiasaan. Ia terus berputar sesuai dengan garis edarnya. Tak
hendak melakukan semacam improvisasi.
Apa yang sedang kamu
lakukan? Beberapa daun bungur rebah di tanah. Undakan menuju beranda
berlumut. Lalu, suara batuk-batukmu terdengar mengusik ketenanganku.
"Aku
tak apa-apa. Hanya sedikit terganggu kisah-kisah yang kamu hidangkan
setiap malam, oleh iklan-iklan dan berita kriminal di koran dan
televisi, juga foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu."
Jejak-jejak
ayah begitu nyata di matamu. Kamu begitu peragu dan takut yang kerap
tidak pada tempatnya. Bahkan, kamu tak pernah mau singgah di taman dua
musim itu. Sebuah taman yang dibangun seorang teman yang suka menulis
sajak-sajak indah tentang Januari. Aku ingin mengajakmu ke sana. Berbagi
cerita, bertukar kebosanan dan keluh kesah yang kerap menjadi menu
sarapan dan makan malam.
"Kenapa sekarang kamu semakin kurus?"
Kamu menghapus banyak sekali jejak ayah di situ. Seolah-olah menolak lelaki yang turut menyusun dirimu.
"Tidak. Bukan begitu. Terlalu banyak ayah di rumah ini."
"Tetapi, bukankan itu normal. Setiap rumah dan halaman selalu saja dipenuhi Ayah bukan?"
"Tapi
aku ingin berubah. Aku ingin melepas ritus kecemasan yang turun-temurun
harus ditelan mentah-mentah bagi penerusnya. Tetapi, aku tak hendak
menolak silsilah. Aku hanya ingin berubah."
"Bukankah ayah juga suka berubah-ubah?"
Kamu
diam. Menjelma tugu selamat datang. Lalu, memintaku segera berlalu,
meninggalkan Tanjungkarang dan tak lagi mengingatmu. Kamu wanita yang
aneh. Kamu menolak peta dan tanda-tanda jalan yang mestinya tetap kamu
simpan sebagai bekal perjumpaan.
"Tidak. Aku tidak menyesal. Aku bebas menyusun kisah-kisahku. Aku bebas membangun taman yang berbeda dari ayah."
"Mengapa kamu begitu membenci ayah?"
"Aku sudah bilang. Aku tidak membenci ayah. Aku hanya ingin sedikit berubah."
Ia
kembali diam. Aku juga diam. Bulan kroak di langit dimakan kala. Awan
kelabu menaungi Tanjungkarang. Sementara, aku sangat ingin melihatmu
tersenyum setiap pagi. Tapi, selalu gagal lantaran hujan yang tak pernah
alpa sepanjang Februari. Apakah kamu tahu bahwa ayah tak lagi berwarna
hijau.
3. Ayah dan sebilah pisau di matamu
Matamu
menyimpan sebilah pisau. Pisau dari baja yang kuat dan tajam. Kamu
selalu membuatku takut. Aku ingin kamu terpejam. Selamanya. Agar mata
itu tak lagi melukaiku. Sudah kubilang jangan menatapku seperti itu.
Tolong. Aku ingin bebas dari tatapanmu.
Lalu aku teringat ketika
sendiri di sebuah halte. Berharap sebuah bus melintas dan lekas
membawaku pergi. Sejenak menjauh darimu. Kamu seperti ayah. Atau justru
kamu sesungguhnya telah menjelma ayah. Ayah yang bagiku seperti ikan di
akuarium. Ia berenang ke sana kemari dan merasa berada di sungai atau
samudera.
Dulu aku kerap gagal menjelaskan kepada ayah bahwa aku
harus keluar rumah, bahwa aku harus pergi agar aku tak hidup di akuarium
yang sama. Tapi, ayah selalu menolak. Ia tak ingin dibantah oleh siapa
pun. Ibu juga hanya diam di kursi. Lalu, setelah ayah pergi, ibu suka
mengelus rambutku. Gelombang pasang melanda dadaku.
Langit merah
marun, Sayang. Apa yang sedang kamu risaukan. Bukankan aku ada di sini.
Menemanimu. Bukankah aku sudah berjanji akan selalu ada untukmu. Kamu
adalah takdirku. Percayalah. Aku ada karena kamu membutuhkan teman yang
bisa kamu ajak bercerita. Bertukar kisah lama yang dulu selalu kita
sangkal. Kita kubur di halaman atau gudang tempat banyak barang bekas
teronggok begitu saja.
Tapi, pertemuan demi pertemuan membuat kita justru menghadirkan hal-hal yang mestinya kita abaikan.
"Sore ini, aku ingin kamu berhenti merayu? Aku tak ingin selalu kamu dustai?"
"Ya.
Aku juga sudah bosan. Toh, sesungguhnya kita tetap sendiri. Kita tak
mungkin sungguh-sungguh bersama, meskipun tubuh kita begitu rapat, kulit
kita saling bersentuhan. Aku merasakan napasmu. Kamu merasakan debar
jantungku."
Pisau di matanya kembali berkilat. Aku terhenyak. Ia
menatap tanpa berkedip selama beberapa menit. Membuatku jadi kehilangan
cara untuk duduk tenang di dekatnya. Sekuntum mawar tergolek di dekat
pintu. Seorang lelaki berwajah musim dingin memungutnya. Mawar itu
diletakkan di akuarium. Sebuah figura terjatuh.
4. Suara di rembang petang
Di rembang petang kamu menatap ombak yang berkejaran. Seekor camar terbang sendiri, pelepah kelapa menari-nari.
"Meski
tak abadi. Aku selalu ingin bersamamu. Kita akan berpisah. Tak apa.
Tapi paling tidak kita pernah berbahagia. Itu sudah cukup bagiku,
ujarmu. Sebelum sebuah mobil menjemputku.
"Ketidakabadian itu aneh ya?" tanyaku.
"Ya," ujarmu diikuti helaan napas yang tidak menyenangkan.
Pernah,
wanita itu berdiri dengan dua sayap malaikat di punggungnya. Dia
mengusir mimpi-mimpi buruk. Tanpa lelah menemaniku berjalan. Mengajari
bersabar ketika keadaan tak sejalan harapan, bahwa akan ada pagi ketika
hidup terasa selalu malam. Senyumnya adalah telaga.
Tapi, kini
mata itu menjelma senja yang pucat. Setiap helai rambutnya menyimpan
ratusan kisah sedih. Matahari dan rembulan bersembunyi dibalik rimbun
awan. Kini, Ia seperti tanaman yang layu karena terlalu lama dipeluk
kemarau. Aku tidak tahu sebabnya. Dan, enggan untuk menduga-duga. Tapi,
aku tetap mengaguminya.
Mengenalnya membuat banyak alasan untuk
berbahagia. Tapi, sekaligus bersedih karena terlalu sering berpisah.
Cakrawala membentangkan banyak warna. Berkali-kali aku tergoda pelangi
atau gerimis yang turun sore hari. Tapi, berkali-kali pula
lembaran-lembaran lain ingin kubuka. Tapi, tatapan dan genggaman
tangannya selalu membawaku kembali. Menunggu. Perempuan berpipi merah
jambu.
Bandar Lampung, Februari 2012
dipublikasikan di SKH Lampung Post, 04 Maret 2012 |