Kober buka kelas menulis Prosa dan Puisi



Kabar gembira buat masyarakat Lampung yang ingin menyalurkan hobi menulis. Khususnya orang tua yang ingin mendorong anaknya menghasilkan karya, lebih terarah dan sekaligus meraih prestasi.  Mulai Mei 2016, Kober Creative Institute (KCI) membuka kelas tatap muka bagi pelajar, mahasiswa dan umum.

Sebagai sekolah penulisan kreatif (creative writing) pertama di Lampung, KCI percaya pelatihan ini akan mendatangkan banyak manfaat baik bagi individu, regenerasi penulis, dan karya-karya mereka dapat mengharumkan nama Lampung di masa mendatang.  Tidak tanggung-tanggung pelatihan ini melibatkan sejumlah sastrawan lampung yang nama dan karyanya sudah akrab dengan sejumlah media lokal dan nasional, seperti  Ari Pahala Hutabarat M.Pd (Sastrawan dan Sutradara Teater), Inggit Putri Marga (Sastrawan), Fitri Yani (Penyair dan Guru), Yuli Nugrahani Sastrawan dan pengelola media cetak), Yulizar Fadli (Penulis prosa) dan lain sebagainya. Tidak menutup kemungkin juga akan melibatkan sejumlah penulis lain, baik dari dalam maupun luar Lampung.
Pendidikan dan pelatihan menulis sangat penting bagi perkembangan pemikiran anak, namun karena terbatasnya jam pengajaran di sekolah tidak banyak orang yang memiliki kemampuan menulis dengan baik, khusunya puisi dan prosa. Manfaat lainnya selain sebagai satu ajang mengukir prestasi sejak dini, juga bermanfaat bagi peningkatan kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dengan tepat, mensistematisasi kerja otak, melahirkan penulis-penulis handal dari Lampung, dan lain sebagainya.

Jangan lewatkan kesempatan ini dan jadilah orangtua dan sekolah pertama yang peduli terhadap minat anak. Butuh waktu sekitar 5 tahun bagi kami untuk melakukan persiapan pelatihan menulis buat anak-anak. Karakter anak sangat khas dan sama sekali berbeda dengan karakter orang dewasa. Sebagai komunitas penulis paling terkemuka di Lampung, sejak lama kami sudah ditanya dan ditodong untuk membuka kelas anak. Namun ternyata persiapan untuk mengajar menulis buat anak-anak tidak mudah. Kami mencoba merangkum sejumlah kiat menulis dari berbagai sumber, baik yang berkembang di Indonesia maupun di Luar Negeri.

Kober Creati Institute melayani kebutuhan peserta ajar dengan metode serta teknik mengajar paling efektif yang sudah bertahun-tahun diujicoba.  Menulis kreatif diperuntukkan bagi pelajar Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP/Mts), Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/SMK/MA), mahasiswa, dan Umum.

Keuntungan mengikuti kelas menulis Kober Creative Institute:
1.Lebih personal
2.Dibimbing secara ketat oleh fasilitator yang kompeten
3.Pengajar adalah sastrawan yang karyanya sudah diakui nasional dan bahkan international.
4.Metode mentoring dan coaching secara Off-line dan On-line
5.Waktu/jadwal pertemuan disesuaikan.

Benefit tambahan:
Gratis konsultasi penulisan melalui beragam media seperti Facebook, BBM, WA, SMS, twitter, Email dll selama masih terdaftar sebagai peserta ajar.

Segera daftarkan diri Anda sekarang juga, kuota terbatas.

Cp:
Bob (082177960779)
Riska (081367517801)
Lia (08578826272)

Angki


DI dalam sel penjara berbau pesing, aku mendengarkan kisah dari mulut seorang lelaki paruh baya. Malam itu, kami berdua duduk bersisian sambil menyandarkan punggung ke tembok. Aku agak menyesal gara-gara menanyakan perkara perempuan bernama Angki kepadanya.

“Tolong pijiti saya,” katanya. Aku diminta memijati punggungnya. Aku bangkit dan segera melaksanakan perintahnya. Sementara itu, si lelaki paruh baya memulai ocehannya.
             
*

Saya ingat pada sebuah sore sekitar enam belas tahun lalu, saat itu jalan raya disesaki lalu lalang kendaraan dan gerimis turun saat saya dan Angki berteduh di bawah atap terpal gerobak gorengan di depan rumah toko, di seberang tugu Sumpah Pemuda. Lampu jalan menyirami kaos biru dan rambut Angki yang bergelombang. Beberapa helai rambut terjuntai menutupi sebelah matanya. Saya menyingkirkan rambut itu dan mulai memandangi matanya. Bagi saya, binar mata Angki jauh lebih terang ketimbang cahaya lampu jalan.

“Apa aja, Mas?” kata penjual gorengan.

Kami berdua kaget, Angki menunduk sambil mengulum senyum dan saya berpaling ke muka lelaki kurus berkumis tipis yang di tangan kanannya menggenggam alat pencapit gorengan berbahan stanlis.

“Campur, tapi bakwannya lebih banyak,” kata saya setelah mengulurkan uang kertas dua puluh ribuan. Saya mengangguk kepada si penjual. Pada saat yang sama, dengan ekor mata kanan saya, tertangkaplah sekilas gambar lontaran senyum Angki. Tertangkap pula gerak gemulai tangan kirinya yang tengah membenarkan beberapa helai rambut yang kembali menutupi pandangannya.

Sekali lagi saya menatap mata Angki, tapi dia justru menatap plastik hitam berisi gorengan yang dijinjing si penjual. Bibir Angki yang tipis dimonyongkan untuk memberi tanda kepada saya. Saya pun menoleh ke si penjual dan berkata terima kasih setelah lelaki berkumis tipis itu menggeleng dan melemparkan senyum.

Lalu saya berikan plastik itu pada Angki sebelum kami berdua berbalik badan dan melangkah menghampiri motor yang terparkir enam langkah dari gerobak kue itu. Gerimis masih turun dan jalan raya tetap ramai ketika saya menghidupkan mesin motor. Dengan helm di kepala, kami berdua mulai berkendara di antara puluhan kendaraan lainnya.

Kepulan asap yang keluar dari moncong knalpot-knalpot itu mungkin telah masuk ke lubang hidung dan paru-paru kami. Selama di jalan, saya dan Angki membisu sambil menembus gerimis menuju rumahnya.

Sampai di depan rumah, setelah mengembalikan helm kepada saya, Angki mengucapkan terima kasih dan melangkah masuk ke dalam. Saya menjawab ucapannya dengan angguk dan senyuman. Dia mengangkat tangan kirinya dan berkata, “Sampai jumpa.”

Dan pada jam lima sore, dua hari setelah membeli gorengan malam itu, di teritis kolam renang hotel berbintang tiga, saya dan Angki berbaku tanya. Belasan orang ada di kolam itu.

Tubuh Angki terendam separuh di pojok kolam yang tak seberapa dalam. Sambil menyipratkan air ke muka saya, Angki berkata, “Kenapa kamu selalu bilang menyukai mata saya?”

Saya tertawa sambil mengusir bulir air berbau kaporit dari wajah saya. Saya membalas cipratannya dan berkata, ”Bukankah tak semuanya harus ditanya?”

“Jawab saja,” katanya.

”Itu sama saja kamu bertanya kenapa saya suka makan bakwan.” Saya menatap matanya.

“Tidak logis dan gombal...” dia menyipratkan air lagi.

“Tapi kamu suka...”

“Siapa bilang?” dia tertawa. “Jawablah sampai saya menyukai jawabanmu...”

“Karena matamu,” kata saya, ”Seperti segelas es jeruk keprok. Bulir-bulir kuningnya selalu terasa saya kunyah. Segarnya tertinggal di lidah. Pendeknya saya ingin meminummu setiap hari.”

“Kamu belum terlalu mengenal saya.” Angki tertawa lalu menjulurkan lidahnya. Lalu dia berenang ke seberang dan saya mengejarnya.

Terus terang saya memang belum mengenal siapa Angki. Mungkin itu karena saya tak selalu bersamanya setiap hari. Saya hanya bisa menemuinya jika dia menelepon saya.

Dan berikutnya, dua minggu setelah kami berenang bersama, saya dan Angki berteduh di depan sebuah ruko. Saat itu hujan sangat deras. "Saya selalu mengenang saat pertama memandang matamu," kata saya sesudah menyingkirkan beberapa helai rambutnya.

Angki tersenyum setelah mencubit lengan saya. “Matamu juga selalu kukenang,” katanya. Saya menyangkal, “Ini serius. Matamu seperti telik sandi perang, selalu mengikuti ke mana pun saya pergi.”

Sekali lagi Angki mencubit, kali ini di pinggang kiri saya, “Gombal lagi,” katanya sebelum tertawa seperti orang digeltiki. Saya mengernyitkan dahi dan mengucapkan kata sungguh sebanyak dua kali. Mendengar perkataan saya, Angki menyunggingkan bibirnya.

Sekali lagi saya memberanikan diri untuk merangkulkan tangan ke pundak Angki, tapi dia mengelak.

“Kamu punya perasaan yang sama dengan saya, kan?” kata saya.

Saya merasa tolol di depannya. Saya kehilangan diri saya. Saya justru merasa tak ada saat berdua dengannya.

Angki menatap saya. “Mungkin...” katanya sebelum mengajak saya pulang dan menerabos deras hujan.
Dan sebulan berikutnya di pinggir pantai, tepat di muka di pondok es kelapa, saya memberanikan diri untuk menggenggam kedua tangan Angki. Saya katakan padanya bahwa saya mencintainya.

Dia memandang saya dan berkata, “Sampai kapan pun, saya akan menganggapmu sebagai sahabat...”

Genggaman saya pada tangannya mengendur. “Kenapa?”

“Karena memang begitu...”

Saya melepaskan genggaman. “Kenapa kamu tidak menolak dari awal...”

“Saya tidak tahu. Saya tidak enak hati. Maafkan saya...”

“Tidak perlu minta maaf,” kata saya. Angki memeluk saya, tapi saya tidak membalasnya. Sekali lagi saya kehilangan diri saya. Saya tak ada saat berdua dengannya.

Saya berdiri lalu berjalan mendekati laut dan berdiri di tepiannya sambil memandang terbang kawanan camar. Sementara itu di belakang saya, Angki termangu di kursi bambu di depan pondok es kelapa yang sedang sepi pembeli. Lima belas menit berselang barulah saya mengantarnya pulang.

Dalam perjalanan pulang kami berdua memilih diam. Angki memeluk saya dengan erat. Rasanya saya ingin menabrakkan motor ke bagian belakang mobil yang ada di depan kami, tapi saya mengurungkannya.

Tak terasa motor yang kami kendarai sudah sampai di depan rumah Angki. Dia mengajak saya turun dan mampir ke rumahnya, namun saya menolaknya.

Enam bulan berikutnya, ketika saya pulang kerja, di seberang tugu Sumpah Pemuda, di tempat pertama saat saya memandang matanya, tepat di bangku kayu panjang milik penjual gorengan, saya duduk sendirian sambil mengunyah bakwan. Lalu, saat itu...

“Lalu, setelah mengunyah bakwan itulah bapak memutuskan untuk memutilasi tubuh Angki?” tanyaku sembarangan. Kini aku memijati kakinya.

“Ya, begitulah secara garis besar,” jawab si lelaki paruh baya sebelum mengucapkan terima kasih dan pergi pamit tidur.

“Angki...” saya menggumamkan nama itu sekali lagi. n

Bandar Lampung, 2014
Cerpen Yulizar Fadli

Menunggu Mustar


DUA lelaki duduk di depan ruko yang dilabeli tulisan ‘Dijual’. Sepeda motor yang mereka bawa diparkir di belakang warung kopi dan rokok yang dijaga seorang perempuan dan anak lelakinya.

“Sudah datang?” tanya Taji.

“Kurasa belum,” jawab Forta.

“Kau yakin?”

“Sangat.”

“Oh, Tuhan...”

Pagi ini si perempuan dan anak lelakinya memerhatikan dua lelaki yang duduk di depan ruko di belakang warung kecilnya. Si perempuan tak bisa mendengar percakapan mereka berdua, tapi bisa melihat keduanya saling mendekatkan kepala saat bicara.

“Tunggu sampai rokok kita habis.”

”Pukul berapa sekarang?”

“Lima menit lalu kau sudah bertanya.”

“Berati 07.05.”

Kendaraan roda dua dan empat berseliweran. Asapnya melambung ke udara. Suara sirine sebuah mobil polisi diikuti klakson-klakson mobil di belakangnya terdengar di jalan raya.

“Kau hafal pelat mobilnya?”

“B-2675-HY. Bahkan aku tahu tanpa harus melihat pelatnya.”

“Kau yakin dia kerja di sana?”

“100%...” Taji menyahut sambil mengangguk lalu mengangkat alisnya. Ia melihat bank swasta yang berdiri di seberang jalan raya. Bank itu berdekatan dengan toko kaca dan benda-benda itu dipajang di pinggir jalan raya. Sinar matahari memantul dari sana.

“Pukul berapa sekarang?”

“Akan kujawab setelah rokok kita habis.”

“Kalau begitu aku ingin memesan kopi.”

Taji beranjak dan berjalan mendekati warung itu. Ia memesan kopi pada si perempuan kemudian kembali lagi ke tempat duduknya. Forta tetap duduk dan terus memerhatikan setiap kendaraan yang berbelok ke arah bank itu.

“Bagaimana?”

“Masih sama.”

“Kau yakin?”

“Apa gunanya berdusta? Dan aku bersumpah bahwa sekarang sudah jam tujuh lewat sebelas,” kata Forta, setelah melihat Taji mematikan rokok kreteknya.

“Terima kasih telah memberi tahuku.”

“Berterima kasihlah pada Tuhan.”

Taji memegang dadanya dan berkata, “Hmm... instingku mengatakan dia tak akan berangkat kerja.”

“Jangan gunakan insting.”

Taji membuka mata, “Aku percaya pada insting.”

“Percayalah pada Tuhan.” Forta mengangkat kedua tangan sambil menengadahkan wajahnya. “Hari apa sekarang?” tambahnya.

“Jumat.”

“Berkat...”

“Kenapa kita tidak bertanya pada penjual kopi dan rokok itu?”

“Mana mungkin si perempuan tahu satu per satu orang yang bekerja di bank seberang jalan itu.”

“Apa salahnya mencoba?”

“Itu pekerjaan lucu.”

“Memang lucu.”

“Tapi masih kalah lucu dibanding pekerjaan Joker dalam film Batman.”

Anak dari perempuan pemilik warung itu datang membawa segelas kopi di atas nampan pelastik. Taji mencoba mengajaknya bicara. Tapi bocah itu tak menjawab. Si bocah hanya berkedip cepat sambil menggelengkan kepalanya.

“Hi hi hi...” Forta tertawa.

“Hi hi hi...” Taji menirukan Forta.

“Kenapa kau tak memesankan kopi untukku?”

“Tak pernah sekali pun aku melihatmu minum kopi.”

“Ay ya ya ya ...”

“Dasar tonggos!”

“Ssssttt ... apa kau mau kita kehilangan jejak kendaraan itu?!”

Jalan Kartini makin sibuk karena kendaraan saling berdempetan. Forta melihat satu per satu kendaraan itu. Ia beranjak dari duduk dan berjalan meninggalkan Taji.

Forta, dengan mata terarah ke setiap kendaraan, terus berjalan mendekati warung rokok dan kopi yang segaris lurus dengan bank itu. Ia menyeberangi jalan dan hampir saja ditabrak kendaraan roda dua. Tapi Forta tak peduli dan terus berjalan melewati kaca-kaca yang dipajang di pinggir jalan.

Forta menuju parkiran mobil yang ada di antara toko kaca dan bank itu, dan bank itu memang mempunyai dua tempat parkir. Pertama di areal sekitar bank dan kedua adalah tempat Forta sekarang. Lelaki kekar itu mulai memeriksa satu per satu mobil yang teparkir di sana. Tapi Forta tak menemukan mobil yang dicarinya.

“Bagaimana?” tanya Taji setelah Forta kembali dari tempat parkiran.

“Nihil. Tapi saya yakin dia akan datang.”

“Aku tak yakin ...”

“Kalau begitu berdoalah.”

“Kau saja. Bukannya kau pemeluk teguh?”

“Tuhan mahabaik, datangkanlah si Mustar dengan segera. Datangkanlah.”

“Begitukah caramu berdoa?”

“Sudah lama aku tidak berdoa.”

“Mustar,” kata Taji, “Cepatlah datang dan jangan buat kami menunggu lebih lama,” tambahnya.

“Hi hi hi...”

Anak si perempuan penjual kopi dan rokok itu menoleh ke arah dua lelaki yang duduk di depan ruko tepat di belakang warungnya. Forta sempat beradu pandang dengan anak itu, tapi dua detik kemudian ia kembali fokus ke jalan raya dan bank swasta.

“Aku punya rencana untuk menunggunya sampai malam.”

“Tanpa makan?”

“Ya. Kita bukan orang yang kurang makan. Kita sengaja tidak makan. Itu dua hal yang berbeda.”

“Kenapa kita tidak ke rumahnya saja.”

“Tak perlu.”

“Kenapa?”

“Itu bukan inti rencana kita.”

“Tapi kau baru saja merubah rencana.”
“Tapi aku tak bilang akan ke rumahnya dan tak ada yang menyuruh kita mendatangi rumahnya.”

“Kita akan menuntaskan pekerjaan kita di jalan yang sepi?”

“Aku tahu jalan menuju rumahnya sangat sepi dan penuh pohon jati.”

“Tapi tunggu dulu,” kata Forta. “Aku ingin tahu pokok persoalannya...”

“Yang penting,” kata Taji, “Kau ikuti saja perintahku. “Dan percayalah,” tambahnya, “Aku hanya mengikuti perintah bosku.”

“Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang kuketahui sebabnya.”

“Ini urusan utang, kau tahu, utang...” kata Taji. “Tapi sekarang bosku tak menginginkan uang si Mustar lagi. Sudahlah, Forta, yang jelas aku mengandalkanmu karena ingatan dan tubuhmu sama-sama kuat. Kau seperti banteng. Oh tidak, kau seperti Muhammad Ali.”

“Aku lebih mirip Mike Tyson!” jawab Forta. “Tapi selain itu, Taji, aku membantumu karena aku berutang nyawa padamu,” tambahnya. Forta kembali mengarahkan matanya ke jalan raya dan bangunan bank swasta.

“Inilah waktu yang tepat jika kau mau menebus utangmu,” kata Taji. Forta menoleh dan mengangguk ke arah Taji.

“Pukul berapa sekarang?”

“Apa tidak ada pertanyaan lain?”

“Forta...”

“Tiga menit lagi jam 8.”

“Kenapa tak satu pun kendaraan yang berbelok ke bank itu milik si Mustar!”

“Tapi kita masih punya banyak waktu untuk menunggu.”

“Kita pernah menunggu lebih lama dari ini.”

“Kau ingat kapan itu?”

Taji mengangguk. “Tapi,” katanya, “Kita tak akan membahasnya di sini.” Ia mengernyitkan dahi dan menggeleng dua kali.

Sekarang Forta mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata besarnya ke jalan raya. Ke arah sedan hitam mengilat. Pelan-pelan ia berdiri dan mulai melangkah.

“Itu dia...” bisik Forta. “Ya, pasti dia...” ia menekan suaranya.

Taji beranjak dari duduknya. “Kau yakin?!” katanya.

Sedan hitam itu berbelok ke bank swasta ketika Forta mengatakan “Itu pertanyaan konyol” kepada Taji. “Jadi bagaimana?” tambah Forta.

“Tunggu sampai dia keluar, baru kita ikuti!” kata Taji.

“Kenapa tidak di tempat parkir saja ...”

“Jangan...”

“Tuhan pengasih. Ampunilah temanku ini.”

“Ada apa denganmu? Memang begitulah rencana kita.”

Forta menekan gigi atasnya ke gigi bawahnya. “Rasanya aku ingin mengambil pistol di motor kita,” katanya.

“Aku yakin kau tidak selucu itu.”

“Berapa lama lagi?”

“Sampai dia keluar.”

“Kalau tidak?”

“Pasti keluar.”

“Kalau begitu aku mau pesan kopi,” kata Forta.

“Hihihi ...”

Forta mendekati warung kecil itu dan memesan segelas kopi. Ia berjalan dan kembali duduk di depan ruko, menyusul Taji yang telah duduk duluan.

“Ini pertama kalinya kau minum kopi.”

“Oh... aku jadi terharu.” Hammer mencibir sambil membelalakkan matanya.

“Kuamini jika kau mau mati diinjak gajah,” tambahnya.

“Jelek sekali doamu, kawan...”

Kopi datang, tapi kali ini dibawa oleh si perempuan. Ia langsung pergi setelah meletakkan gelas itu di samping kaki kanan Forta. Jalan raya tetap sibuk dan mobil sedan itu belum juga keluar dari bank.

“Minumlah semuanya selagi panas,” kata Taji.

“Bagaimana jika kusiramkan ini ke mukamu?” kata Forta sekedipan mata sebelum ia meniup kopinya.

“Soal gajah tadi,” kata Taji. “Bukannya ayahmu pernah menembak induk gajah?”

Forta berhenti menyesap kopinya, “Tak perlu bertanya. Kau sudah tahu.”

“Lalu ia dipecat dari kepolisian?”

“Bukan dipecat, tapi pensiun. Itu dua hal yang berbeda.” Forta kembali meneguk kopinya. “Oh Tuhan, kenapa si Mustar belum juga keluar...” tambahnya. Sekarang Forta menghidupkan rokok kreteknya.

“Kau sendiri tahu kalau mobil si Mustar baru saja masuk ke bank itu. Pukul berapa sekarang?” tanya Taji.

“Kamu lihat saja sendiri.” Forta menunjukkan jam tangannya.

Taji mengangguk, “Setengah sembilan.”

“Kurasa hanya kita berdua yang menunggui orang sepagi ini.” Forta kembali menyeruput kopinya.

“Kupikir ada. Banyak malah.”

“Arghhh...”

Jalanan masih ramai dengan kendaraan, dan kali ini ditambah dengan arak-arakan puluhan sepeda yang dikendarai anak-anak sekolah. Di belakang dan di depan rombongan itu, masing-masing dua polisi bermotor mengawal mereka. Anak lelaki si perempuan penjual kopi dan rokok itu juga melihat arak-arakan. Tiga mobil terlihat keluar dari bank itu, tapi bukan mobil si Mustar.

“Memang biasanya dia keluar jam berapa?”

“Mungkin 11.”

“Oh, Tuhan...”

“Kubilang, mungkin. Bisa saja si Mustar keluar satu menit lagi, kan?”

“Bersuka rialah dengan ucapanmu.”

“Kita harus tenang.”

“Berilah hamba ketenangan, Tuhan.” Forta menunduk dan menghelas napas.
Taji menarik tangan kiri Forta dan melihat jam kulit yang melingkar di tangannya. Sekarang pukul 08.55.

Satu mobil keluar dari bank itu, tapi bukan mobil si Mustar si manajer bank, melainkan mobil putih panjang bersirine merah.

Semua mobil yang teparkir di bank itu keluar, kecuali mobil si Mustar. Taji dan Forta bangkit. Keduanya berjalan menuju trotoar di depan warung kecil itu. Si perempuan dan anak lelakinya terus memerhatikan Taji dan Forta.

Taji dan Forta menyeberang melewati kendaraan dan kaca-kaca yang dipajang di pinggir jalan raya. Dan keduanya memang menemukan mobil Mustar terparkir sendirian.

“Cepat ambil motor,” kata Taji.

“Untuk?”

“Mengejar ambulans tadi. Kita ubah rencana. Aku tak ingin Mustar mati di rumah sakit.” N


Lampung Post, Minggu, 31 Agustus 2014
Cerpen Yulizar Fadli

DKL Helat Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung Jilid II






Setelah sukses menggelar Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung jilid I yang dihelat pada Selasa, 24/12/2013 di Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung. Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) kembali menggagas pertemuan sastrawan lampung empat generasi Jilid II, kegiatan ini adalah  respon atas banyaknya permintaan untuk menghelat event serupa.

Komite Sastra DKL kembali memfasilitasi pertemuan empat generasi tersebut di satu panggung. Kali ini DKL menggandeng Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu (1 Februari 2014), bertempat di  Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) lantai I Universitas Lampung, mulai pukul 19.00 WIB s.d. selesai.

Acara ini akan diramaikan dengan kehadiran sastrawan Lampung dari beberapa generasi seperti: Asaroeddin Malik Zulqornain, Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tanpaka. Edi Samudera Kertagama, Iswadi Pratama, Ahman Yulden Erwin, Panji Utama, Ari Pahala Hutabarat, Udo Z. Karzi, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, SW Teofani, Yuli Nugrahani, Alexander GB, Agit Yogi Subandi, Fitri Yani, Laela Awalia, Ika Nurliana, Edi Purwanto, dan lain sebagainya.
Sebagian dari mereka akan membacakan karya-karyanya.

Konsep acara Panggung Silaturahmi Sastrawan Lampung Jilid II sedikit berbeda dari sebelumnya, selain pembacaan karya juga ada diskusi dan gitar klasik lampung yang akan dibawakan Hislat Habib dan kawan-kawan dari UKMBS Unila. Pada sesi diskusi menghadirkan pembicara: Ari Pahala Hutabarat (Editor & Penerbit Buku Hilang Silsilah) dan Ahmad Yulden Erwin (Penyair).

Ari Pahala Hutabarat mengatakan bahwa event ini selain untuk memberi kesempatan kepada sastrawan yang belum sempat hadir pada Silaturahmi Sastra I (Desember 2013), juga diharapkan mampu menyemarakkan kehidupan dunia penulisan. Silaturahmi Sastra II adalah upaya mendekatkan sastrawan dengan publiknya, juga untuk membangkitkan gairah generasi muda untuk terus belajar dan berkarya.  (Gebe)