Inpektur Jendral Nikolai Gogol


Didukung 50-an performer, disutradarai Ari Pahala Hutabarat lakon Inspektur Jenderal karya Nikolai Gogol  oleh Komunitas Berkat Yakin dihadirkan dengan citarasa Melayu bertitimangsa 1920-an. Selama 4 jam penonton menikmati beberapa tarian, musik, drama, kostum, dan kisah yang mengulik tentang bobroknya pejabat-pejabat di suatu wilayah yang sejak dulu hingga sekarang dikenal korup. Penyakit yang tak kunjung mendapatkan obatnya.



Setelah dipentaskan di Taman Budaya Lampung 24 – 26 Maret 2004,  lakon ini kembali dipentaskan pada 22 – 23 Mei 2004 Mei 2004 di tempat yang sama, lalu dilanjutkan ke kota  Metro, 30 Mei 2004.




HAMLET


Pada pertengahan tahun 2003,  dipelopori Ari Pahala Hutabarat selaku sutradara, Komunitas Berkat Yakin menampilkan Hamlet karya William Shakespeare. Didukung 15-an performer salah satu teks kanon ini dihadirkan. Pertunjukan ini berdurasi sekitar 4 jam.

Teks dan struktur dramatik secara umum dipertahankan, tindak invensi terletak pada kostum seluruh pemain yang dibalut spanduk: tubuh riuh oleh kata-kata, iklan, oleh gambar-gambar produk tertentu. Alih-alih menampilkan pilar-pilar atau balairung istana yang megah, Hamlet  berlangsung di  panggung yang dibiarkan kosong, perubahan warna backdrop untuk menajamkan impresi pada setiap adegan.





Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani


Bunga Rumah Makan
karya Utuy Tatang Sontani
sutradara Muhammad Yunus

Pemain:
Shinta Korsana, M. Yunus, Jimmy Maruli Alfian, Muhammad Thantowi, Ade Suryana, Iskandar GB, Hadi Suryawan Syarief, Dora Yuanita, Nurul Ambiya, Ajeng Restian P, Ari Pahala Hutabarat, Ahmad Zilalin.Pemusik: Dedi Iswanto, Agung, dll. Pimpinan Produksi: Wempy Donan Mandreas.

Lakon Bung Rumah Makan (1948) merupakan salah satu karya Utuy Tatang Sontani. Salah seorang angkatan '45 terkemuka, mula-mula terutama karena romannya "Tambera" dan cerita-cerita pendeknya yang dikumpulkan dalam "Orang-orang Sial" Tetapi ia kemudian lebih terkenal sebagai penulis naskah lakon. Karya-karya lainnya:"Awal dan Mira", "Sayang Ada Orang Lain", "Di Langit ada Bintang", "Sang Kuriang", "Si Kabayan", "Selamat Jalan Anak Kufur", dan "Tak Pernah Menjadi Tua"

Latar ruang dalam lakon Bunga Rumah Makan adalah sebuah interior rumah makan yang terkesan rapi meskipun tidak terlalu mewah. Sebuah rumah makan dengan tiga stel kursi, rak kaca tempat kue, meja tulis, telpon, radio dan lemari. Merujuk perwujudan pentas yang ditampilkan dengan pendekatan realisme (sesuai gaya atau aliran lakon) maka visualisai ruangan juga diwujudkan dalam konsep ruang tiga dimensional yang dibuat mendekati kenyataan dengan pengaturan perspektif yang mendukung arah hadap penonton. Impresi yang menonjol dari latar ruang ini adalah sebuah rumah makan  sederhana yang seolah-olah berlokasi di dekat jalan raya.

Bunga Ruma Makan didukung sepuluh tokoh yakni pelaku utamanya Ani seorang gadis pelayan rumah makan “Sambara”, dan yang lainnya: Iskandar seorang pelancong muda, Sudarma pemilik rumah makan “Sambara”, Karnaen ialah anak Sudarma, Usman seorang kayai kawan Sudarma, Polisi, Suherman seorang kapten tentara, Rukayah kawan Ani, perempuan pembeli, pengemis, dan dua orang pegawai kantoran.
Karya-karya Utuy mencerminkan pikiran-pikirannya yang sangat rasional dan menentang ‘idealisme-idealisme’ yang tidak realistis. Cerita ini juga menentang dan melakukan pembelaan terhadap tokoh-tokoh yang mengalami eksploitasi secara stratifikasi sosial dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang kaya (pemodal) atau sistem. Lakon ini menampilkan dampak psikologis akibat tekanan dan himpitan materi tetapi di sisi lain, juga menegaskan pentingnya harkat kemanusiaan dalam relasi sosial yang retak. lakon-lakon Utuy banyak menyoroti persoalan sosial, teater sosial.

Sekitar tahun 1920, seiring dg kemunduran aliran ekspresionis, munculah gaya teater sosial. Gaya teater ini merupakan gabungan naturalisme dan ekspresionis. Pemahaman tentang bentuk teater sosial banyak di perdalam oleh seniman di Rusia melalui karya-karya Vsevolod Meyerhold (1874-1942) dan di Eropa Barat melalui Bertold Brecht (1898 - 1956). Ide dasar Teater Sosial adalah bahwa teater sosial percaya bahwa kondisi manusia ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan politik. Teater Sosial mencoba menyadarkan masyarakat pada perubahan nasibnya, dan keinginan untuk merubahnya. Tujuan dari teater sosial melalui efek alienasi adalah menghibur, mendidik, sekaligus menggiring penonton untuk bertindak secara praktis di luar teater. (Sistem Pelatihan Lakon, Shomit Mitter, 2002)


Nama Utuy Tatang Sontani tidak bisa lepas dari barisan sastra eksil Indonesia, yaitu golongan sastra yang lahir dari mereka yang harus pergi dari tanah kelahirannya karena pandangan politik yang berbeda. Untuk Indonesia setelah periode Rustam Efendy di Belanda; kemudian Tan Malaka, Darsono, Musso, dan Semaun yang menerbitkan karyanya di Moskow dalam bahasa Rusia tahun 1920-an, jumlah penulis eksil Indonesia secara fenomenal menanjak sejak tragedi 1965.

Ketika tragedi itu terjadi, banyak penulis yang sedang berada di luar negeri kemudian menjadi penulis selama eksil. Karya-karyanya secara terbatas akhirnya sampai juga di Tanah Air sejak berkembangnya teknologi surat elektronik akhir abad lalu dan metode titip kawan yang kebetulan berkunjung ke luar negeri. Perlahan fenomena sastra eksil mulai menyembul dalam perbincangan sastra di Indonesia, dan pencarian lebih jauh tentangnya menjadi keharusan. Ketika penelitian “Sastra Eksil Indonesia” ini mulai dirancang, karya-karya Utuy yang dia tulis di Tiongkok (1965-1973) dan Moskow (1973-1979) menjadi salah satu target utama.

Utuy Tatang Sontani didapuk sebagai pemenang hadiah sastra BMKN untuk dramanya Sayang Ada Orang Lain. Ia meninggal tahun 1979 dan disemayamkan di aula utama Universitas Negara Moskow sebagai penghormatan terakhir pada salah satu guru besarnya.

Festival Anton Chekov

Kisah Cinta Hari Rabu karya Anton Chekov, sutradara Ari Pahala Hutabarat, pemain: Budi LPG, Yunita Arsianti Purba, dan Muhammad Yunus, Taman Budaya Lampung , 3 Agustus 2002. foto doc. kober
Komunitas Berkat Yakin (Kober) merupakan wadah pembelajaran beragam seni dan pemikiran, khususnya teater.  Pada pertengahan tahun 2002, bekerjasama dengan Teater Satu Lampung tercetuslah sebuah program bersama dengan tajuk Festival Anton Chekov.

Festival Anton Chekov menjadi bagian dari riset keaktoran (realisme) anggota Kober. Chekhov dipilih karena drama-dramanya memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Karya-karya Chekov  yang sebagain besar mengangkat hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokoh adalah tonggak bagi tumbuh dan berkembangnya teater bergenre realisme. Semangat modernisme yang menempatkan manusia sebagai pusat (Antroposentris) saat itu.



Selama tiga hari, 2-4 Agustus 2002, empat drama-drama pendek karya Anton Chekov dipentaskan. Nyanyian Angsa disutradarai Iswadi Pratama, Kisah Cinta Hari Rabu disutradarai Ari Pahala Hutabarat, Pinangan digarap Imas Sobariah, sedangkan Penagih Hutang digarap Ahmad Jusmar.